Internationalmedia.co.id – News – Jakarta terus memantapkan langkahnya menuju kota global yang modern, namun tak melupakan esensi kemanusiaan. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta secara progresif memperluas jangkauan layanan untuk memastikan setiap generasi, mulai dari anak-anak hingga warga lanjut usia (lansia), dapat menikmati pembangunan kota secara merata. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa Jakarta harus menjadi ruang yang aman, mudah diakses, dan penuh kesempatan bagi seluruh warganya untuk berkembang sesuai kebutuhan mereka.
Komitmen Jakarta sebagai kota ramah anak bukan sekadar predikat. Sejak tahun 2022, Jakarta konsisten menyandang status Provinsi Layak Anak, sebuah pencapaian yang terus didukung dengan perluasan akses pendidikan. Pemprov DKI gencar melanjutkan program unggulan seperti Kartu Jakarta Pintar Plus, Program Pemutihan Ijazah, dan inisiatif Wajib Belajar 13 Tahun. Bahkan, untuk tahun ajaran 2026/2027, Program Sekolah Swasta Gratis telah diimplementasikan di 103 sekolah dari berbagai jenjang, mulai SD hingga SLB, yang mampu menampung lebih dari 10.109 peserta didik baru. "Untuk anak-anak yang tinggal di Jakarta, sebagai kota ramah anak, saya berharap manfaatkan kesempatan untuk belajar dengan sungguh-sungguh," ujar Pramono.

Selain pendidikan formal, Jakarta juga menyediakan 324 Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) yang tersebar luas, berfungsi sebagai pusat aktivitas bermain, belajar, berolahraga, dan interaksi sosial bagi anak-anak dan keluarga. Aspek perlindungan anak juga menjadi prioritas, dengan adanya layanan penitipan anak (daycare) dan Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak. Pengaduan kekerasan dapat dilakukan 24 jam melalui Jakarta Siaga 112, WhatsApp, atau kunjungan langsung. Upaya preventif juga digalakkan melalui penyuluhan keluarga di 267 kelurahan, bertujuan memperkuat pola asuh dan mencegah kekerasan sejak dini. Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Seto Mulyadi, secara khusus mengapresiasi kebijakan Pemprov DKI yang dinilai sangat berpihak pada hak dan kepentingan terbaik anak.
Tak hanya anak-anak, perhatian serius juga dicurahkan kepada warga lanjut usia. Dengan populasi sekitar 1,16 juta lansia, atau 10,6 persen dari total penduduk Jakarta, kebutuhan kelompok usia ini menjadi elemen krusial dalam setiap perencanaan kota, meliputi layanan kesehatan, perlindungan sosial, ruang aktivitas, hingga kemudahan mobilitas.
Di sektor perlindungan sosial, Pemprov DKI Jakarta telah menyalurkan Kartu Lansia Jakarta kepada 168.497 lansia yang memenuhi kriteria hingga Juni 2026. Gubernur Pramono Anung menegaskan bahwa bantuan ini diprioritaskan bagi mereka yang benar-benar membutuhkan. Dari segi kesehatan, tersedia Posyandu Lansia dan Poli Lansia Terpadu. Inovasi "Pasukan Putih" juga hadir untuk melayani kunjungan kesehatan ke rumah, tidak hanya bagi lansia tetapi juga warga berusia 18 tahun ke atas dengan penyakit kronis yang kesulitan mengakses fasilitas kesehatan. Layanan ini dapat diakses melalui aplikasi JAKI atau nomor darurat 112 dan 119.
Untuk mendorong lansia tetap aktif dan berdaya, Pemprov DKI mengembangkan Sekolah Lansia sebagai wadah belajar, pemberdayaan, dan interaksi sosial. Hingga Juli 2026, tercatat 78 Sekolah Lansia dengan 2.278 peserta. "Yang paling penting bagi lansia adalah merasa tetap produktif, bahagia, dan yang utama adalah tetap mendapatkan rasa kasih sayang dari keluarga," ujar Pramono. Kemudahan mobilitas juga menjadi perhatian, di mana warga ber-KTP Jakarta berusia 60 tahun ke atas dapat mengajukan Kartu Layanan Gratis untuk menikmati fasilitas Transjakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta tanpa biaya.
Respons positif datang dari berbagai pihak. Maria Ulfani, Ketua Forum Komunikasi Lanjut Usia Provinsi DKI Jakarta, mengapresiasi layanan kesehatan yang dinilai sangat membantu, terutama dengan pendampingan petugas bagi lansia yang kurang familiar dengan sistem digital. "Pelayanan di rumah sakit dan puskesmas sangat memuaskan," katanya. Antusiasme serupa juga terpancar dari peserta Sekolah Lansia. Rini (65) dan Eli Surya (70) mengaku senang mendapatkan ruang untuk belajar, berinteraksi, dan mengisi waktu luang agar tetap produktif dan tidak mudah bosan.
Menutup pernyataannya, Gubernur Pramono Anung menegaskan bahwa seluruh upaya ini adalah bagian integral dari visi pembangunan Jakarta menjelang usia lima abad. "Jakarta harus menjadi kota global yang ramah bagi semua generasi," ujarnya. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, keluarga, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat untuk mewujudkan lansia yang sehat, aktif, mandiri, berdaya, dan bermartabat. Pada akhirnya, semua layanan ini bertujuan untuk menjaga agar warga lanjut usia di Jakarta senantiasa memiliki harapan. "Seseorang yang punya harapan biasanya lebih semangat untuk hidup," pungkas Pramono, memberikan sentuhan inspiratif pada komitmen Jakarta yang inklusif.
