Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Israel menjadi sasaran tiga gelombang serangan rudal dari Iran pada Kamis (2/4) pagi waktu setempat. Insiden yang dilaporkan melukai sejumlah orang di wilayah Tel Aviv ini memicu respons sigap dari sistem pertahanan udara Israel. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa serangan bertubi-tubi ini sontak menyulut kepanikan di berbagai kota.
Gelombang pertama serangan segera disusul oleh respons kepolisian Israel yang mengerahkan personel ke sejumlah titik terdampak di Israel bagian tengah. Media lokal mengidentifikasi setidaknya sembilan lokasi yang terkena dampak. Tak berselang lama, hanya dalam kurun waktu tiga jam, militer Israel kembali mengumumkan deteksi rudal-rudal yang meluncur dari Iran, memicu sirene peringatan serangan udara di sebagian besar wilayah utara dan tengah negara itu.

Akibat rentetan serangan pertama, petugas medis setempat melaporkan sedikitnya empat orang mengalami luka ringan. Meskipun demikian, belum ada laporan mengenai korban jiwa atau kerusakan signifikan dari gelombang kedua dan ketiga serangan. Media-media di Tel Aviv menduga kerusakan yang relatif luas di beberapa area disebabkan oleh penggunaan amunisi cluster, jenis senjata yang meledak di udara dan menyebarkan bom-bom kecil. Baik Israel maupun Iran sebelumnya telah saling menuduh terkait penggunaan jenis amunisi ini.
Serangan rudal ketiga terjadi tak lama setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan pidato kepada publik Amerika mengenai konflik dengan Iran. Trump menyatakan AS "hampir menyelesaikan" tujuannya dalam perang tersebut dan berjanji akan mengintensifkan serangan dalam 2-3 minggu ke depan. Insiden ini menambah daftar ketegangan, menyusul serangan rudal Iran pada Rabu (1/4) waktu setempat, sehari sebelumnya, yang melukai 14 orang, termasuk seorang bocah perempuan berusia 11 tahun, saat warga Yahudi bersiap merayakan Passover.
Menyikapi situasi ini, Komando Pertahanan Dalam Negeri Israel segera mengeluarkan pernyataan yang mengizinkan warga untuk meninggalkan tempat-tempat perlindungan di seluruh wilayah negara. Meski demikian, kewaspadaan tetap tinggi di tengah eskalasi konflik yang terus memanas antara kedua negara.

