Internationalmedia.co.id – Kabar baik datang dari Timur Tengah, pemerintah Israel dilaporkan telah menyetujui kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas, membuka harapan baru untuk mengakhiri konflik berkepanjangan di Gaza. Kesepakatan ini juga mencakup pembebasan sandera Israel yang selama ini ditahan oleh kelompok tersebut.
Menurut laporan Reuters, persetujuan kabinet Israel ini dicapai pada Jumat pagi, sehari setelah mediator mengumumkan adanya perjanjian yang menyerukan pembebasan sandera Israel dengan imbalan pembebasan tahanan Palestina. Kesepakatan ini juga mengisyaratkan dimulainya penarikan pasukan Israel secara bertahap dari wilayah Gaza.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, melalui akun X pribadinya menyatakan bahwa pemerintah telah menyetujui kerangka kerja untuk pembebasan seluruh sandera, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.
Konflik yang berlangsung selama dua tahun ini telah menimbulkan dampak yang luas, memperdalam isolasi internasional Israel, mengguncang stabilitas Timur Tengah, dan bahkan menguji hubungan antara Amerika Serikat dan Israel. Lebih dari 67.000 warga Palestina dilaporkan menjadi korban jiwa akibat perang ini.
Kepala Hamas di Gaza, Khalil Al-Hayya, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima jaminan dari Amerika Serikat dan mediator lainnya bahwa perang akan segera berakhir.
Seorang juru bicara pemerintah Israel menjelaskan bahwa gencatan senjata akan mulai berlaku dalam waktu 24 jam setelah persetujuan kesepakatan. Setelah periode tersebut, proses pembebasan sandera yang ditawan di Gaza akan dilakukan dalam kurun waktu 72 jam.
Diperkirakan masih ada dua puluh sandera Israel yang masih hidup di Gaza, sementara 26 lainnya diduga telah meninggal dunia, dan nasib dua orang lainnya masih belum diketahui. Hamas mengisyaratkan bahwa proses evakuasi jenazah korban tewas mungkin membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan pembebasan sandera yang masih hidup.
Setelah perjanjian ini resmi berlaku, bantuan kemanusiaan berupa makanan dan obat-obatan akan segera dikirimkan ke Gaza untuk membantu warga sipil yang terdampak konflik. Ratusan ribu warga sipil terpaksa mengungsi dan tinggal di tenda-tenda setelah rumah mereka hancur akibat serangan pasukan Israel.

