Internationalmedia.co.id – News, Pemerintah Iran akhirnya mengumumkan angka resmi korban tewas dalam demonstrasi besar yang melanda negara itu beberapa waktu lalu. Teheran mengklaim 3.117 orang tewas selama aksi protes yang berlangsung selama beberapa minggu.
Namun, pengumuman ini langsung menuai kecaman dari aktivis HAM. Mereka meyakini jumlah korban tewas yang sebenarnya jauh lebih tinggi, mengingat tindakan represif yang dilakukan pasukan keamanan Iran terhadap para demonstran. Aksi unjuk rasa yang awalnya dipicu oleh masalah ekonomi, berkembang menjadi protes luas terhadap kepemimpinan ulama yang berkuasa sejak revolusi 1979.

Menurut pernyataan yayasan veteran dan martir Iran yang dikutip televisi pemerintah, dari 3.117 korban tewas, 2.427 di antaranya, termasuk anggota pasukan keamanan, dianggap "martir". Sementara itu, 690 orang lainnya diklaim sebagai "teroris, perusuh, dan mereka yang menyerang situs-situs militer," ujar Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Akbar Pourjamshidian.
Pemerintah Iran berdalih tingginya jumlah "martir" menunjukkan "pengekangan dan toleransi pasukan keamanan" selama unjuk rasa. Namun, Direktur Iran Human Rights (IHR), Mahmood Amiry-Moghaddam, membantah klaim tersebut.
"Semua bukti yang tersedia dari Iran menunjukkan bahwa jumlah korban tewas yang sebenarnya selama unjuk rasa jauh lebih tinggi," tegas Amiry-Moghaddam. Ia bahkan memperingatkan bahwa jika pola pelaporan eksekusi yang sama diterapkan, "jumlah sebenarnya orang yang tewas bisa mencapai 25.000 orang".
Amiry-Moghaddam menegaskan bahwa bukti yang mereka miliki menunjukkan tanggung jawab negara dalam kematian para demonstran. "Demonstran ditembak oleh pasukan keamanan dan proksi mereka, menggunakan peluru tajam, termasuk senapan mesin berat," pungkasnya.

