Internationalmedia.co.id – News – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, baru-baru ini menegaskan sikap negaranya terkait potensi konflik di Timur Tengah. Berbicara dalam kunjungan kenegaraan dua hari di Lebanon, Araghchi secara gamblang menyatakan bahwa Iran tidak menginginkan perang, baik dengan Israel maupun Amerika Serikat. Namun, ia juga memberikan peringatan tegas: Teheran siap melancarkan balasan jika kembali diserang.
Pernyataan Araghchi ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran akan eskalasi konflik, terutama setelah serangkaian insiden tahun lalu. Seperti dilaporkan Associated Press, Israel, sekutu dekat AS, sebelumnya melancarkan serangan yang menewaskan sejumlah pejabat militer senior dan ilmuwan nuklir Iran. Bersamaan dengan itu, Amerika Serikat juga menargetkan situs pengayaan nuklir Iran melalui serangan bom.

Araghchi menegaskan bahwa serangan-serangan sebelumnya yang dilakukan oleh Amerika dan Israel telah "menguji" Iran dan strategi tersebut dianggapnya "mengalami kegagalan besar". Ia memperingatkan, "Jika mereka mengulanginya, mereka akan menghadapi hasil yang sama." Menlu Iran ini menambahkan, "Kami siap untuk pilihan apa pun. Kami tidak menginginkan perang, tetapi kami siap untuk itu," menunjukkan kesiapan Iran untuk membela diri.
Di sisi lain, Iran juga membuka pintu untuk negosiasi dengan Amerika Serikat terkait program nuklirnya. Namun, Araghchi menekankan bahwa dialog tersebut harus didasari oleh rasa saling menghormati dan kepentingan bersama, bukan dengan sikap "mendikte" dari Washington.
Menurutnya, "negosiasi harus didasarkan pada rasa saling menghormati dan kepentingan bersama." Ia menambahkan, "Kami meyakini bahwa begitu Amerika mencapai hasil yang merupakan negosiasi yang konstruktif dan positif, bukan perintah yang bersifat mendikte, adalah kerangka kerjanya, maka pada saat itulah hasil negosiasi tersebut akan membuahkan hasil."
Program nuklir Iran menjadi sorotan setelah Presiden AS Donald Trump memberlakukan kembali kampanye "tekanan maksimum" sejak Februari lalu, dengan tujuan memblokir pengembangan senjata nuklir Teheran. Kampanye ini termasuk serangan Washington terhadap tiga fasilitas nuklir Iran tahun lalu. Iran sendiri telah memperkaya uranium hingga kemurnian 60 persen, menyusul penarikan sepihak AS dari kesepakatan nuklir 2015 oleh Trump pada tahun 2018.
Meskipun Teheran secara konsisten menyatakan bahwa program nuklirnya bersifat damai, Barat dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sebelumnya menuding Iran memiliki program senjata nuklir terorganisir hingga tahun 2003. Bulan lalu, Trump juga sempat melontarkan peringatan keras, menegaskan bahwa AS dapat melancarkan serangan militer lebih lanjut jika Iran berusaha membangun kembali program nuklirnya.
