Internationalmedia.co.id – Hamas dilaporkan masih membutuhkan waktu untuk mempelajari proposal perdamaian Gaza yang diajukan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai masa depan rencana tersebut.
Seorang pejabat Hamas yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa kelompoknya masih melakukan konsultasi mendalam terkait proposal yang juga didukung Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Proposal tersebut mencakup gencatan senjata segera, pembebasan sandera dalam waktu 72 jam, pelucutan senjata Hamas, serta penarikan bertahap pasukan Israel dari Gaza.

"Hamas masih melanjutkan konsultasi mengenai rencana Trump… dan telah memberi tahu para mediator bahwa konsultasi tersebut masih berlangsung dan membutuhkan waktu," ujar pejabat tersebut, menekankan sensitivitas informasi ini.
Sebelumnya, Trump telah memberikan ultimatum kepada Hamas dengan tenggat waktu "tiga atau empat hari" untuk menerima rencana tersebut. Rencana ini sendiri telah mendapatkan dukungan luas dari berbagai negara, termasuk negara-negara Arab dan Muslim.
Mohammad Nazzal, anggota biro politik Hamas, menyatakan bahwa terdapat beberapa poin dalam rencana tersebut yang menimbulkan kekhawatiran. "Kami sedang berkomunikasi dengan para mediator dan pihak-pihak Arab serta Islam, dan kami serius untuk mencapai kesepahaman," ujarnya seperti dilansir kantor berita AFP.
Sumber dari Palestina yang dekat dengan pimpinan Hamas mengungkapkan bahwa kelompok tersebut berupaya untuk mengubah beberapa klausul, terutama terkait pelucutan senjata dan pengusiran kader Hamas. Selain itu, Hamas juga menginginkan jaminan internasional terkait penarikan penuh pasukan Israel dari Jalur Gaza dan jaminan keamanan bagi para pemimpinnya, baik di dalam maupun di luar wilayah tersebut.
Dengan sikap Hamas yang masih belum pasti, masa depan rencana perdamaian Trump di Gaza menjadi semakin tidak jelas. Negosiasi terus berlanjut di tengah ketegangan yang masih tinggi di wilayah tersebut.
