Internationalmedia.co.id – Aktivis iklim ternama, Greta Thunberg, akhirnya tiba di Yunani setelah dideportasi oleh otoritas Israel bersama dengan 160 aktivis lainnya yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla. Kedatangan Thunberg di Athena disambut dengan pernyataan keras mengenai situasi di Gaza.
Kementerian Luar Negeri Yunani mengonfirmasi kedatangan rombongan aktivis tersebut pada Senin (6/10) waktu setempat. Dari total 161 aktivis, 27 di antaranya adalah warga negara Yunani, sementara sisanya berasal dari 15 negara berbeda.

Setibanya di bandara Athena, Thunberg langsung menyampaikan tuduhan serius terkait aksi militer Israel di Gaza. "Saya ingin menegaskan, ada genosida yang sedang terjadi," ujarnya di hadapan awak media dan pendukung yang hadir. Thunberg juga menyoroti kegagalan sistem internasional dalam melindungi warga Palestina. "Sistem internasional kita mengkhianati Palestina. Mereka bahkan tidak mampu mencegah terjadinya kejahatan perang terburuk," tambahnya, seperti dikutip dari AFP.
Thunberg menjelaskan bahwa misi Global Sumud Flotilla adalah untuk mengambil tindakan ketika pemerintah dianggap gagal memenuhi kewajiban hukum mereka. Aktivis berusia 22 tahun itu juga diduga mengalami perlakuan tidak menyenangkan selama penahanan oleh pasukan Israel. Menurut jurnalis Turki, Ersin Celik, Thunberg bahkan "diseret di tanah" dan "dipaksa mencium bendera Israel". Informasi ini sebelumnya disampaikan Celik kepada media lokal.
Selain itu, Kementerian Luar Negeri Slovakia mengkonfirmasi kedatangan 10 orang yang dideportasi, termasuk seorang warga negara Slovakia dan sembilan orang lainnya dari Belanda, Kanada, dan Amerika Serikat.
