Internationalmedia.co.id – News – Sirene peringatan serangan udara meraung di berbagai wilayah Israel dan sejumlah negara Teluk pada Rabu (8/4) pagi. Beberapa negara bahkan melaporkan serangan rudal, sebuah insiden mengejutkan yang terjadi hanya beberapa saat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan gencatan senjata dua minggu dengan Iran.
Kondisi tegang ini segera memicu respons di berbagai penjuru. Kuwait dan Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan upaya pencegatan terhadap ancaman drone dan rudal yang memasuki wilayah udara mereka. Di Abu Dhabi, kebakaran dilaporkan melanda fasilitas pengolahan gas Habshan, memicu respons darurat dari otoritas setempat.

Situasi serupa juga terjadi di Qatar, di mana Kementerian Pertahanan negara tersebut menyatakan telah berhasil mencegat serangan rudal. Kementerian Dalam Negeri Bahrain juga mengonfirmasi bunyi sirene peringatan udara, mendesak warganya untuk segera mencari perlindungan. Sementara itu, Otoritas Pertahanan Sipil Arab Saudi mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi bahaya di Provinsi Al-Kharj. Militer Israel, melalui pernyataan resminya, mengidentifikasi sejumlah serangan rudal yang diklaim diluncurkan dari Iran dan tengah berupaya keras untuk mencegat ancaman tersebut.
Kesepakatan gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran ini dicapai kurang dari satu jam sebelum tenggat waktu yang ditetapkan Trump untuk melancarkan serangan besar-besaran ke Teheran. Melalui platform Truth Social pada Selasa (7/4) malam, Trump mengumumkan bahwa ia "setuju untuk menangguhkan pengeboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu." Namun, ia menegaskan bahwa penangguhan ini bersyarat: Iran harus membuka kembali Selat Hormuz "SEPENUHNYA, SEGERA, dan AMAN."
Menanggapi pengumuman tersebut, pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, segera menginstruksikan seluruh unit militer negaranya untuk menghentikan serangan. Meski demikian, Mojtaba juga memberikan peringatan tegas bahwa gencatan senjata ini "bukanlah akhir dari perang." Pernyataan yang disiarkan oleh Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) itu mengutip Mojtaba Khamenei yang mengatakan, "Ini bukanlah akhir dari perang, tetapi semua cabang militer harus mematuhi perintah Pemimpin Tertinggi dan menghentikan tembakan mereka."
Iran sendiri dikenal dengan strategi pertahanan yang terdesentralisasi, di mana komandan militer regional beroperasi dengan tingkat otonomi berdasarkan daftar target yang telah ditentukan. Oleh karena itu, diperkirakan butuh waktu bagi perintah dari pemimpin tertinggi Iran untuk sepenuhnya menjangkau dan diimplementasikan oleh setiap unit militer di lapangan, menambah ketidakpastian di tengah gejolak yang terjadi.

