Internationalmedia.co.id – News melaporkan sebuah perkembangan mengejutkan dalam ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump secara resmi mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu dengan Teheran. Keputusan ini, yang diumumkan pada Selasa malam waktu AS, datang dengan syarat penting: Iran harus bersedia membuka kembali Selat Hormuz, jalur perairan vital bagi pasokan energi global.
Melalui akun Truth Social-nya, Trump mengklaim bahwa Amerika Serikat telah mencapai "semua tujuan militernya" dalam operasi yang berlangsung sejak 28 Februari lalu. Pengumuman ini disampaikan hanya beberapa jam sebelum Washington berencana melancarkan serangan besar-besaran terhadap Teheran, seperti dilansir Al Jazeera pada Rabu (8/4/2026).

Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, segera menginstruksikan seluruh unit militer negaranya untuk menghentikan serangan, mematuhi kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Pakistan tersebut. Namun, dalam pernyataan yang disiarkan oleh Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), Khamenei dengan tegas memperingatkan bahwa gencatan senjata ini "bukanlah akhir dari perang," mengisyaratkan potensi konflik yang masih membayangi.
Sekutu dekat AS, Israel, menyambut baik keputusan tersebut. Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan dukungan penuh terhadap penangguhan pengeboman AS terhadap Iran, asalkan Teheran segera membuka Selat Hormuz dan menghentikan semua serangan terhadap AS, Israel, serta negara-negara di kawasan. Pernyataan ini, seperti dikutip AFP, menekankan pentingnya stabilitas regional.
Selama periode gencatan senjata ini, muncul kebijakan baru terkait Selat Hormuz. Iran dan Oman berencana memungut biaya transit bagi kapal-kapal yang melintas. Kebijakan ini, yang dilaporkan oleh CNN dan Associated Press, merupakan bagian dari kesepakatan gencatan senjata dan dana yang terkumpul akan dialokasikan untuk rekonstruksi Iran, yang telah digempur AS dan Israel sejak akhir Februari lalu, menurut kantor berita Tasnim.
Dengan nada optimis, Presiden Trump mengklaim gencatan senjata ini sebagai "kemenangan total dan penuh" bagi AS. Ia meyakini bahwa langkah ini akan membuka jalan bagi kesepakatan jangka panjang antara kedua negara, dengan perundingan yang dijadwalkan berlanjut pekan ini. Dalam wawancara eksklusif dengan AFP, Trump bahkan menyebut peran China dalam membujuk Iran untuk kembali ke meja perundingan, serta menjanjikan bahwa isu uranium yang diperkaya milik Teheran akan "ditangani secara sempurna."
Meskipun demikian, peringatan dari Pemimpin Tertinggi Iran bahwa gencatan senjata ini bukanlah akhir dari konflik, serta kondisi-kondisi yang menyertainya, menunjukkan bahwa perdamaian di kawasan ini masih sangat rapuh dan memerlukan perhatian serius dari komunitas internasional.

