Internationalmedia.co.id – News – Di tengah guncangan gempa bermagnitudo 7,7 yang melanda Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026, pukul 05.46 WITA, sebuah kisah inspiratif muncul dari seorang operator SPBU. Valentinus Jantur (39), yang keluarganya sendiri menjadi korban terdampak, memilih untuk kembali mengenakan seragamnya sehari setelah bencana, memastikan pasokan energi bagi masyarakat yang juga berjuang pulih.
Pagi nahas itu, Valentinus tengah bersiap untuk memulai aktivitasnya ketika bumi berguncang hebat. Tanpa pikir panjang, instingnya langsung memerintahkan untuk menggendong sang anak dan berlari keluar rumah bersama seluruh keluarganya. "Kami langsung keluar rumah, tidak pakai lama. Besar sekali guncangannya," kenang Valentinus, seminggu setelah kejadian yang mengguncang Manggarai.

Hari itu, pekerjaan dikesampingkan. Keselamatan keluarga menjadi prioritas utama. Bersama lima keluarga lain, Valentinus dan keluarganya kini tinggal sementara di tenda darurat yang didirikan di depan rumah. Anak-anaknya pun belum bisa kembali bersekolah, karena bayang-bayang trauma gempa masih sangat terasa. "Gempa sekarang ini yang terbesar, yang paling parah. Kami masih takut, mau ke kamar mandi saja takut, masih trauma," ujarnya jujur, menggambarkan ketakutan yang masih menyelimuti.
Namun, di tengah ketakutan dan kondisi keluarganya yang belum sepenuhnya pulih, Valentinus membuat keputusan yang mengejutkan banyak pihak. Sehari setelah gempa, ia kembali ke posnya sebagai operator SPBU Mbaumuku 54.865.01, Ruteng. Ia menyadari betul bahwa kebutuhan energi masyarakat tidak bisa menunggu. Bahan bakar minyak (BBM) tetap krusial untuk mendukung mobilitas dan berbagai aktivitas pemulihan pascabencana. "Sudah kewajiban melayani masyarakat. Tugas kami memang harus seperti itu, untuk melayani masyarakat terdampak," tegasnya, menunjukkan dedikasi yang luar biasa.
Keputusan Valentinus untuk kembali bekerja mendapat dukungan penuh dari keluarganya. Baginya, menjalankan tugas di SPBU dan menjaga keluarganya adalah dua tanggung jawab yang harus berjalan beriringan. "Keluarga mendukung. Harus melayani walaupun dalam keadaan begini. Ada tanggung jawab untuk keluarga dan anak," jelasnya.
Dukungan tidak hanya datang dari keluarga, tetapi juga dari Pertamina. Valentinus mengungkapkan rasa terima kasihnya atas bantuan yang diberikan, yang menjadi penyemangat baginya dan rekan-rekan operator lainnya untuk terus bertugas di tengah kesulitan.
Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita, menggarisbawahi peran vital para operator SPBU sebagai garda terdepan pelayanan energi yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Ia mengakui bahwa di tengah bencana, mereka tidak hanya mengemban tugas pekerjaan, tetapi juga berjuang memulihkan kondisi keluarga masing-masing. "Kami turut prihatin atas kondisi yang dialami teman-teman operator dan keluarganya. Pertamina hadir memberikan bantuan, dukungan, dan semangat agar mereka dapat melewati masa pemulihan, sekaligus tetap menjalankan perannya dalam menjaga layanan energi bagi masyarakat," ujar Arya.
Arya menambahkan, dedikasi operator seperti Valentinus adalah pilar penting dalam menjaga kelancaran layanan energi di wilayah terdampak. "Di balik operasional SPBU yang tetap berjalan, terdapat para pekerja yang juga tengah menghadapi dampak bencana bersama keluarganya," pungkasnya. Kisah Valentinus menjadi cerminan semangat pantang menyerah dan dedikasi tinggi di tengah cobaan, membuktikan bahwa kemanusiaan dan tanggung jawab dapat bersinar terang bahkan di saat tergelap.
