Penunjukan Nick Adams sebagai calon Duta Besar AS untuk Malaysia menuai kontroversi besar. Internationalmedia.co.id melaporkan, Presiden AS Donald Trump pekan lalu mengumumkan penunjukan tokoh konservatif dan pendukung Israel ini, yang sebelumnya dikenal sebagai influencer sayap kanan, sebagai diplomat Negeri Paman Sam di Malaysia. Langkah Trump ini langsung disambut gelombang penolakan keras dari berbagai kalangan di Malaysia.
Adams, pria 40 tahun berpaspor AS kelahiran Australia, telah menuai kecaman atas sejumlah postingan di media sosialnya. Salah satu cuitannya yang viral berbunyi, "Jika Anda tidak mendukung Israel, Anda mendukung teroris!". Postingan lain yang kini telah dihapus, mengklaim Adams telah menyebabkan pemecatan seorang pelayan karena mengenakan pin "Free Palestine". Pernyataan-pernyataan kontroversial ini memicu kecaman luas, terutama dari kelompok pro-Palestina.

Penolakan terhadap Adams bukan hanya datang dari kalangan masyarakat biasa. Para mantan menteri, politikus senior dan muda lintas partai di Malaysia secara terang-terangan menolak penunjukan tersebut. Mantan Menteri Hukum Zaid Ibrahim bahkan menyebut pencalonan Adams sebagai "penghinaan". Sentimen serupa diungkapkan mantan Menteri Kesehatan Khairy Jamaluddin.
Mohamed Sukri Omar, Ketua Pemuda Partai Islam SeMalaysia (PAS) wilayah Selangor, mengatakan Adams "secara terbuka menyebarkan kebencian terhadap Islam dan mendukung rezim kolonial Zionis". Ia menegaskan bahwa diamnya pemerintah Malaysia atas penunjukan ini akan dianggap sebagai pengkhianatan terhadap dukungan rakyat pada perjuangan Palestina. Mus’ab Muzahar dari Amanah Youth juga ikut mengecam, menyebut Adams sebagai "propagandis sayap kanan" dan "pendukung vokal rezim Zionis Israel".
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari Adams maupun Kedutaan Besar AS di Kuala Lumpur terkait gelombang penolakan ini. Proses konfirmasi Senat AS terhadap penunjukan Adams masih berlangsung. Namun, gelombang protes yang kuat dari Malaysia ini jelas menjadi tantangan besar bagi pemerintah AS.