Internationalmedia.co.id – News – Ketika sorotan global bergeser tajam menuju eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, realitas pahit di Jalur Gaza, Palestina, justru semakin terabaikan. Di tengah pusaran geopolitik baru ini, warga Gaza masih berjuang dalam kondisi yang mengerikan, di mana serangan militer Israel terus berlanjut tanpa henti, bahkan di wilayah pendudukan Tepi Barat. Situasi ini diperparah dengan insiden mematikan baru-baru ini.
Dilansir dari Al-Jazeera pada Minggu (29/3/2026), pejabat kesehatan di Gaza melaporkan, setidaknya enam warga Palestina, termasuk seorang anak kecil, kehilangan nyawa setelah pasukan Israel melancarkan serangan udara ke dua pos pemeriksaan polisi di selatan Khan Younis. Kantor berita Reuters mengonfirmasi bahwa di antara korban tewas terdapat tiga personel polisi dan tiga warga sipil, sementara empat warga lainnya mengalami luka-luka. Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak Israel terkait serangan tersebut.

Data mencatat, sejak Israel menyetujui ‘gencatan senjata’ yang dimediasi Amerika Serikat pada November 2025, kekerasan terus berlanjut dengan 692 warga Palestina tewas dan 1.895 lainnya terluka. Upaya AS melalui inisiasi Board of Peace pun belum mampu membawa perubahan signifikan atau perbaikan kondisi di Gaza.
Selain ancaman serangan yang tak berkesudahan, warga Gaza juga harus menghadapi krisis energi yang melumpuhkan. Pasokan listrik ke seluruh wilayah telah terputus selama hampir dua tahun, menambah daftar panjang penderitaan mereka.
Perang di Gaza, yang diklaim Israel sebagai respons atas serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.200 orang di Israel, telah menghancurkan Gaza secara total. Lebih dari dua tahun berlalu, serangan Israel telah merenggut nyawa sekitar 75.000 warga Palestina dan memicu krisis kemanusiaan yang sangat parah.
Bahkan sebelum konflik memanas, Gaza sudah menghadapi pemadaman listrik bergilir akibat keterbatasan impor dari Israel dan kelangkaan bahan bakar. Puncaknya, pada 11 Oktober 2023, pembangkit listrik utama Gaza benar-benar berhenti beroperasi karena kehabisan bahan bakar, menyebabkan pemadaman listrik total di seluruh wilayah.
Tanpa pasokan bahan bakar dan dengan jalur transmisi yang rusak, rumah-rumah, rumah sakit, sistem air, dan jaringan komunikasi kehilangan akses vital terhadap listrik yang andal. Warga terpaksa bergantung pada generator, yang jumlahnya terbatas dan semakin tidak berkelanjutan.
Sejak saat itu, infrastruktur kelistrikan Gaza terus memburuk drastis, diperparah oleh kelangkaan bahan bakar dan kerusakan fisik jaringan yang meluas. Generator, meskipun menjadi satu-satunya alternatif, sangat terbatasi oleh pasokan bahan bakar yang minim, secara langsung berdampak pada layanan esensial seperti perawatan kesehatan, produksi air bersih, dan telekomunikasi. Kondisi ini membuat sistem kelistrikan Gaza antara tahun 2025 dan 2026 secara luas digambarkan sebagai sistem yang praktis tidak berfungsi, meninggalkan jutaan penduduk dalam kegelapan dan penderitaan yang tak terbayangkan.
