Internationalmedia.co.id – News – Washington D.C. diguncang insiden penembakan dramatis yang memaksa Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Wakil Presiden JD Vance dievakuasi secara mendadak dari acara White House Correspondents’ Dinner. Kejadian mencekam ini berlangsung di hotel Hilton Washington D.C. pada Sabtu malam waktu setempat, memicu kekhawatiran serius di kalangan pejabat dan tamu penting yang hadir.
Berdasarkan laporan yang dihimpun internationalmedia.co.id dari berbagai sumber seperti CNN, BBC, dan AFP, insiden tersebut segera memicu respons cepat dari Secret Service. Presiden Trump dipastikan dalam kondisi selamat, begitu pula anggota kabinet yang turut hadir di acara bergengsi tersebut. Kabar penangkapan pelaku penembakan segera tersebar melalui komunikasi radio agen Secret Service yang berteriak, "terjadi penembakan!"

Pelaku Ditangkap, Petugas Terluka
Tidak lama setelah insiden, seorang pelaku penembakan berhasil diamankan. Juru Bicara Dinas Rahasia AS, Anthony Guglielmi, mengonfirmasi penangkapan tersebut, menyatakan bahwa "Presiden dan Ibu Negara aman bersama semua orang yang dilindungi. Satu orang ditahan." Detail identitas dan kondisi pelaku pada awalnya belum diungkap.
Dalam kekacauan tersebut, seorang petugas Secret Service Amerika Serikat terkena tembakan. Beruntung, peluru mengenai perlengkapan pelindung petugas, dan ia segera dilarikan ke rumah sakit setempat. Petugas tersebut diperkirakan akan selamat, sebuah kabar melegakan di tengah situasi tegang.
Identitas Mengejutkan Sang Penembak
Identitas pelaku akhirnya terungkap sebagai Cole Tomas Allen, pria berusia 31 tahun asal California. Presiden Trump bahkan mengunggah foto penangkapan Allen di platform Truth Social miliknya, menunjukkan Allen ditahan oleh petugas keamanan di lantai.
Kepala Kepolisian Metropolitan sementara, Jeffery Carroll, menduga Allen adalah tamu yang menginap di hotel Hilton Washington. Polisi telah mengamankan sebuah kamar yang diduga digunakan Allen, meskipun motif penembakan masih dalam penyelidikan mendalam.
Latar belakang Allen cukup mengejutkan. Ia dikenal sebagai guru paruh waktu di C2 Education, sebuah perusahaan persiapan ujian dan bimbingan belajar, serta seorang pengembang gim video. Allen adalah lulusan California Institute of Technology dengan gelar sarjana teknik mesin dan meraih gelar master ilmu komputer dari California State University-Dominguez Hills tahun lalu. Semasa kuliah di Caltech, ia bahkan pernah diliput media lokal karena mengembangkan prototipe rem darurat untuk kursi roda.
Reaksi Trump: "Pekerjaan Berbahaya" dan ‘Lone Wolf’
Muncul setelah dievakuasi, Presiden Trump menyampaikan konferensi pers di Gedung Putih. Ia menyebut jabatan Presiden AS sebagai pekerjaan yang sangat berbahaya. "Dengar, saya di sini untuk melakukan pekerjaan. Itu bagian dari pekerjaan. Ini berbahaya, saya tidak bisa membayangkan ada profesi yang lebih berbahaya," ujar Trump, sembari menegaskan kecintaannya pada negara dan kebanggaannya terhadap pekerjaan yang telah dilakukan.
Trump juga menduga Allen adalah ‘lone wolf’ atau pelaku tunggal, sebuah pandangan yang ia rasakan selaras dengan temuan awal penegak hukum. "Mereka tampaknya berpikir dia adalah serigala tunggal. Dan saya juga merasakan hal itu," ucapnya.
Motif dan Manifesto Anti-Kristen
Pelaksana Tugas Jaksa Agung Todd Blanche mengindikasikan bahwa tersangka penembakan menargetkan anggota administrasi Presiden Trump, meskipun detail spesifik mengenai siapa targetnya belum diungkap. Dugaan ini muncul setelah penegak hukum melaksanakan sejumlah surat perintah penggeledahan.
Lebih lanjut, Presiden Trump mengungkapkan bahwa Allen adalah "orang yang sakit" yang menulis manifesto berisi kebencian terhadap umat Kristen. "Ketika Anda membaca manifestonya, dia membenci orang Kristen," kata Trump kepada Fox News. Ia menambahkan, bahkan anggota keluarganya dilaporkan pernah menyampaikan keluhan mengenai perilaku Allen kepada pihak berwenang, menunjukkan bahwa Allen adalah individu yang sangat bermasalah.
Penyelidikan atas insiden penembakan yang mengguncang ibu kota AS ini masih terus berlanjut untuk mengungkap seluruh motif dan latar belakang di balik tindakan Cole Tomas Allen.