Perundingan gencatan senjata antara Hamas dan Israel di Doha, Qatar, menemui jalan buntu. Internationalmedia.co.id melaporkan, berdasarkan informasi dari dua sumber Palestina yang dekat dengan proses negosiasi dan dikutip dari AFP, Sabtu (12/7/2025), Israel ngotot mempertahankan pasukannya di Gaza. Hal ini menjadi batu sandungan utama dalam upaya mencapai kesepakatan damai.
Padahal, baik Hamas maupun Israel sebelumnya sepakat untuk membebaskan 10 sandera yang masih ditawan sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata selama 60 hari. Namun, sumber Palestina yang memahami detail perundingan mengungkapkan, Israel menolak menarik seluruh pasukannya dari Gaza.

"Negosiasi di Doha mengalami hambatan serius karena tuntutan Israel, hingga Jumat lalu, untuk menghadirkan peta penarikan yang sebenarnya merupakan peta penempatan ulang pasukannya, bukan penarikan sesungguhnya," ungkap sumber tersebut. Hal ini bertolak belakang dengan keinginan Hamas yang menginginkan penarikan total pasukan Israel.
Lebih lanjut, sumber itu menjelaskan bahwa peta yang diajukan Israel menunjukkan rencana mempertahankan pasukan di lebih dari 40% wilayah Gaza. "Delegasi Hamas menolak peta tersebut karena pada dasarnya melegitimasi pendudukan kembali sekitar separuh Jalur Gaza dan mengubahnya menjadi zona terisolasi tanpa akses bebas," tambahnya.
Situasi ini membuat mediator meminta kedua belah pihak untuk menunda perundingan sementara menunggu kedatangan utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, di Doha. Nasib gencatan senjata di Gaza pun masih menjadi tanda tanya besar.
