Internationalmedia.co.id melaporkan, Ekuador tengah dilanda krisis. Presiden Daniel Noboa menetapkan status darurat di tujuh provinsi menyusul demonstrasi besar-besaran yang dipicu pencabutan subsidi bahan bakar minyak (BBM). Aksi protes yang disertai kekerasan ini menyebar ke puluhan provinsi, memicu kekacauan di berbagai penjuru negeri.
Keputusan Noboa mencabut subsidi BBM pekan lalu bertujuan memangkas anggaran negara sebesar USD 1,1 miliar (Rp 18 triliun). Dana tersebut, menurutnya, akan dialokasikan untuk program bantuan sosial dan sektor pertanian. Namun, kebijakan ini justru memicu lonjakan harga diesel secara drastis. Harga melonjak dari USD 1,80 (Rp 29 ribu) menjadi USD 2,80 (Rp 46 ribu) per galon, atau setara dengan kenaikan dari 48 sen (Rp 7.887) menjadi 74 sen (Rp 12.160) per liter. Kondisi ini semakin memberatkan sepertiga penduduk Ekuador yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Pada Selasa (17/9), demonstrasi mencapai puncaknya. Demonstran memblokir jalan raya Pan-American North di luar Quito dengan bebatuan. Aksi ini menyusul blokade jalan raya oleh para pengemudi truk sehari sebelumnya. Mahasiswa juga turut serta dalam unjuk rasa di Quito, sementara Serikat pekerja Front Pekerja Bersatu (FUT) merencanakan aksi longmarch pekan depan.
Status darurat yang berlaku selama 60 hari ini memberikan kewenangan kepada pemerintah untuk menangguhkan hak berkumpul dan mengerahkan militer guna membubarkan demonstrasi. Pemerintah Ekuador menyatakan pemblokiran jalan telah mengganggu rantai pasokan pangan dan mobilitas masyarakat, serta melumpuhkan sektor ekonomi.
Ini bukan kali pertama Ekuador menghadapi protes akibat pencabutan subsidi BBM. Upaya serupa oleh presiden sebelumnya juga memicu kerusuhan. Kelompok Masyarakat Adat Conaie, yang berpengaruh dan berperan dalam penggulingan tiga pemimpin Ekuador antara 1997 dan 2005, menentang kebijakan ini dan menyebutnya merugikan masyarakat miskin. Meski demikian, Conaie belum secara resmi bergabung dalam gelombang protes terbaru. Kondisi ekonomi Ekuador sendiri tengah terpuruk setelah menghadapi pemadaman listrik bergilir tahun lalu yang berujung resesi.
