Operasi militer yang dilancarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Venezuela, yang dilaporkan melibatkan serangan dan upaya penangkapan Presiden Nicolás Maduro, telah memicu gelombang reaksi dari berbagai pemimpin dunia. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, langkah kontroversial ini segera menuai kecaman keras dari beberapa negara, sementara pihak lain memberikan dukungan penuh, menyoroti perpecahan pandangan di kancah internasional.
Salah satu suara penentang paling vokal datang dari Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva. Ia dengan tegas mengecam tindakan tersebut, menyebutnya sebagai "pemboman di wilayah Venezuela dan penangkapan presidennya telah melampaui batas yang tidak dapat diterima." Lula menekankan bahwa insiden ini merupakan "penghinaan serius terhadap kedaulatan Venezuela" dan menciptakan "preseden yang sangat berbahaya bagi seluruh komunitas internasional," sebagaimana dikutip dari CNN Internasional.

Senada dengan kecaman, namun dengan nuansa berbeda, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez menyatakan bahwa meskipun pemerintahannya tidak mengakui rezim Maduro, Spanyol juga tidak akan mentolerir "intervensi yang melanggar hukum internasional dan mendorong kawasan ini menuju cakrawala ketidakpastian dan permusuhan." Dari Jerman, Kanselir Friedrich Merz menyerukan tinjauan mendalam terhadap kerangka hukum internasional terkait intervensi AS ini. Merz mengingatkan pentingnya menghindari "ketidakstabilan politik di Venezuela" dan menekankan tujuan "transisi yang tertib menuju pemerintahan terpilih."
Di sisi lain spektrum, Ukraina melalui Menteri Luar Negeri Andrii Sybiha, menyuarakan dukungan terhadap operasi Trump. Sybiha berargumen bahwa "rezim Maduro telah melanggar semua prinsip" hak bangsa untuk hidup bebas, bebas dari kediktatoran, penindasan, dan pelanggaran hak asasi manusia. Ukraina menegaskan komitmennya terhadap "perkembangan lebih lanjut sesuai dengan prinsip-prinsip hukum internasional, dengan memprioritaskan demokrasi, hak asasi manusia, dan kepentingan rakyat Venezuela."
Dukungan paling terang-terangan datang dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sekutu dekat AS. Netanyahu menyampaikan "selamat" kepada Presiden Trump atas "kepemimpinan Anda yang berani dan bersejarah atas nama kebebasan dan keadilan," serta memuji "tekad yang tegas dan tindakan brilian para prajurit pemberani Anda." Sementara itu, Presiden Parlemen Eropa, Roberta Metsola, menegaskan kembali posisi lembaganya yang "tidak menganggap Nicolás Maduro sebagai pemimpin Venezuela yang sah dan terpilih." Metsola juga menyerukan "penghormatan penuh terhadap hukum internasional, dukungan untuk demokrasi, dan pengakuan atas kehendak sah rakyat Venezuela."

