Internationalmedia.co.id – News – Kelompok Houthi di Yaman baru-baru ini mengeluarkan peringatan keras yang berpotensi mengguncang stabilitas jalur pelayaran global. Wakil Menteri Luar Negeri pemerintahan Houthi, Hussein al-Ezzi, menyatakan bahwa Selat Bab al-Mandeb di lepas pantai Yaman akan ditutup jika Presiden AS Donald Trump terus menghalangi upaya perdamaian di kawasan tersebut.
Dalam pernyataan yang diunggah di platform X, seperti dilansir Al Jazeera, al-Ezzi dengan tegas menyebutkan, "Jika Sanaa memutuskan untuk menutup Bab al-Mandeb, maka seluruh umat manusia dan jin akan benar-benar tidak berdaya untuk membukanya." Pernyataan ini menggarisbawahi keseriusan ancaman tersebut, sekaligus menuntut agar Trump dan komunitas internasional segera mengakhiri kebijakan yang menghambat perdamaian serta menunjukkan rasa hormat yang diperlukan untuk hak-hak rakyat Yaman.

Bab al-Mandeb bukan sekadar selat biasa. Jalur air strategis ini berfungsi sebagai arteri vital yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, menjadikannya koridor krusial bagi lalu lintas maritim yang menuju dan dari Terusan Suez. Dengan lebar hanya sekitar 29 kilometer pada titik tersempitnya, selat ini membatasi lalu lintas kapal hanya pada dua jalur, menjadikannya salah satu choke point terpenting di dunia untuk pengiriman komoditas global. Minyak mentah dan bahan bakar lainnya dari Teluk menuju Mediterania, serta komoditas yang bergerak menuju Asia, termasuk minyak Rusia, sangat bergantung pada kelancaran jalur ini.
Ancaman penutupan Bab al-Mandeb ini muncul di tengah ketegangan regional yang memanas. Sebelumnya, Iran sempat membuka Selat Hormuz setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan sekutunya, Hizbullah, di Lebanon. Pembukaan ini sempat memicu euforia di pasar global dan menyebabkan harga minyak anjlok. Namun, Presiden Trump bersikeras akan terus memblokade pelabuhan Iran sampai tercapai kesepakatan yang lebih luas untuk mengakhiri konflik. Menanggapi sikap Trump, Iran pun mengisyaratkan akan kembali menutup Selat Hormuz, menambah daftar potensi krisis di jalur pelayaran krusial lainnya.
Situasi ini menempatkan Bab al-Mandeb dan stabilitas ekonomi global dalam posisi yang sangat rentan. Keputusan politik di tingkat tertinggi kini menjadi penentu apakah salah satu jalur perdagangan terpenting dunia akan tetap terbuka atau justru menjadi medan baru ketegangan yang berpotensi memicu krisis global yang lebih luas.

