Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah sebuah jet tempur Amerika Serikat menembak jatuh drone Iran yang mendekati kapal induk AS. Insiden ini terjadi di tengah upaya diplomatik yang krusial untuk mencapai kesepakatan nuklir antara Washington dan Teheran, demikian laporan Internationalmedia.co.id – News.
Juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Kapten Tim Hawkins, mengonfirmasi kejadian tersebut. Menurut Hawkins, jet tempur F-35C yang berasal dari kapal induk USS Abraham Lincoln melakukan tindakan pembelaan diri dengan menembak jatuh drone Iran itu. Kapal induk tersebut, yang merupakan bagian dari peningkatan kekuatan militer AS, telah ditempatkan di Laut Arab sejak bulan lalu. Pernyataan ini dirilis pada Rabu (4/2/2026).

Ironisnya, insiden ini terjadi hanya beberapa hari sebelum negosiasi penting antara kedua negara. Juru bicara Gedung Putih, Karonline Leavitt, menyatakan bahwa utusan AS, Steve Witkoff, masih dijadwalkan untuk melanjutkan pembicaraan dengan pihak Iran akhir pekan ini. Perundingan yang dijadwalkan pada Jumat (5/2) ini diharapkan dapat meredakan ketegangan yang telah berlangsung lama.
Penembakan drone pada Selasa (3/2) ini bukan satu-satunya bentrokan yang terjadi pada hari yang sama. Sebelumnya, pasukan Iran juga dilaporkan berupaya menahan sebuah kapal tanker berbendera AS di Selat Hormuz, menambah daftar panjang insiden di perairan strategis tersebut. Kejadian ini menggarisbawahi rapuhnya situasi keamanan di kawasan.
Hubungan antara Washington dan Teheran memang telah lama diwarnai pasang surut. Setelah serangkaian ancaman militer dari Presiden AS Donald Trump dan peringatan balasan dari Iran terhadap kapal serta pangkalan AS, kedua negara sempat sepakat untuk berdialog. Namun, ketegangan kembali memuncak setelah AS pernah melancarkan serangan ke situs nuklir Iran beberapa waktu lalu. Pengiriman kembali kelompok tempur angkatan laut AS ke wilayah tersebut pasca-penindakan brutal Teheran terhadap protes anti-pemerintah juga menjadi sinyal kuat.
Meskipun ada jadwal negosiasi, jalan menuju kesepakatan tampaknya masih terjal. Presiden Trump menolak untuk mengesampingkan opsi tindakan militer, sementara rekan sejawatnya dari Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa pembicaraan hanya akan dilanjutkan jika tidak ada ancaman. Sikap keras dari kedua belah pihak ini membuat prospek perundingan menjadi sangat tidak pasti, dengan bayang-bayang eskalasi militer yang terus membayangi.

