Sebuah operasi militer Amerika Serikat yang mengejutkan di Venezuela, berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro, telah memicu gelombang perpecahan politik yang mendalam di seluruh Amerika Latin. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, peristiwa ini, termasuk dugaan penculikan Maduro, telah membelah negara-negara di kawasan tersebut menjadi dua kubu yang saling bertentangan, antara yang mendukung tindakan Washington dan yang mengecamnya keras.
Menurut laporan yang dihimpun dari berbagai sumber, termasuk NBC News dan Associated Press, reaksi dari berbagai negara Amerika Latin terhadap serangan AS di Venezuela menunjukkan polarisasi politik yang tajam. Sejumlah negara secara tegas mengutuk intervensi AS tersebut. Kolombia, Brasil, Meksiko, Uruguay, dan Kuba misalnya, menyerukan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera turun tangan untuk mencari solusi damai dan mengambil langkah-langkah diplomatik guna meredakan ketegangan yang memanas.

Di sisi lain spektrum politik, Argentina, Paraguay, dan Ekuador justru menyambut baik kabar penangkapan Maduro. Panama, misalnya, secara terbuka menyatakan dukungannya kepada oposisi politik Venezuela, yang diyakini secara luas telah memenangkan pemilihan presiden 2024 di tengah bukti-bukti kredibel yang mengemuka. Sementara itu, Guatemala memilih jalur tengah dengan menyerukan lebih banyak dialog sebagai jalan keluar.
Presiden El Salvador, Nayib Bukele, seorang sekutu setia Donald Trump dan kritikus vokal Maduro, bahkan secara langsung menanggapi Senator Demokrat AS Chris Van Hollen. Melalui akun X resminya, Bukele dengan tajam menyebut Hollen "hanya ingin membela para preman" setelah sang senator mengkritik tindakan pemerintahan Trump. Sikap ini mencerminkan narasi Washington yang sejak lama menuduh Maduro sebagai pemimpin tidak sah yang terlibat dalam kartel narkoba.
Operasi militer AS yang berujung pada penangkapan Nicolas Maduro pada Sabtu (3/1) dini hari ini merupakan klimaks dari tekanan berbulan-bulan yang dilancarkan pemerintahan Trump terhadap Caracas. AS secara konsisten menyebut Maduro sebagai pemimpin yang tidak sah dan menuduhnya mendukung kartel narkoba internasional. Tuduhan serius ini mengklaim bahwa Maduro dan jaringannya bertanggung jawab atas ribuan kematian warga AS akibat penggunaan narkoba ilegal. Setelah penangkapannya, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, segera dibawa ke Amerika Serikat.
Sejak September 2025, intensitas operasi AS di kawasan Karibia dan Pasifik memang telah meningkat drastis. Pasukan AS dilaporkan telah menewaskan lebih dari 100 orang dalam setidaknya 30 serangan terhadap kapal-kapal yang dicurigai terlibat dalam penyelundupan narkoba dari Venezuela. Namun, di tengah gempuran operasi ini, sejumlah ahli hukum yang dikutip oleh internationalmedia.co.id, menyuarakan kekhawatiran serius bahwa tindakan AS tersebut berpotensi melanggar hukum domestik maupun internasional, menambah kompleksitas pada krisis yang sudah ada.
Dengan penangkapan Maduro dan respons yang terpecah belah dari negara-negara tetangga, masa depan Venezuela dan stabilitas kawasan Amerika Latin kini berada di ujung tanduk, menarik perhatian dunia terhadap dinamika geopolitik yang terus bergejolak.

