Internationalmedia.co.id – News – Sebuah keputusan mengejutkan datang dari Muhammad Hafiz Ridwan, seorang pemuda 18 tahun yang berhasil menembus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Namun, alih-alih melanjutkan studi kedokteran yang diidamkan banyak orang, Hafiz justru memilih untuk mengejar impian masa kecilnya menjadi perwira Polri, bahkan siap melepaskan kursi di Unair demi seragam cokelat Akpol.
Saat ini, Hafiz tengah berjuang di tahap seleksi pusat Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) 2026 di Semarang, Jawa Tengah. Calon taruna yang dikirim dari Polda Metro Jaya ini dengan tegas menyatakan komitmennya. "Saya sebenarnya sudah terdaftar sebagai mahasiswa FK Unair. Tapi kalau saya diterima di Akpol, saya akan meninggalkan FK Unair," ujar Hafiz kepada internationalmedia.co.id di lokasi seleksi.

Impian menjadi polisi bukan datang tiba-tiba. Bagi Hafiz, sulung dari empat bersaudara, cita-cita ini telah bersemi sejak ia mengenakan seragam Taman Kanak-kanak. Latar belakang keluarganya yang kental dengan kepolisian, di mana ayahnya adalah seorang perwira polisi yang mengawali karier dari bintara hingga meraih gelar doktor, turut membentuk tekadnya. Hafiz kecil pernah bersekolah di TK Kemala Bhayangkari 19 Jakarta Selatan dan SD Kemala Bhayangkari 1 Surabaya, bahkan menjuarai kompetisi baris-berbaris polisi cilik.
Melihat sang ayah yang kini berpangkat AKBP dan bertugas di Polda Jatim, sering memberikan konseling serta pendampingan psikologis kepada masyarakat, semakin menguatkan keyakinan Hafiz. "Melihat sosok ayah sebagai polisi, perlahan muncul keinginan dalam diri saya untuk jadi polisi. Lihat ayah suka menangani korban bencana dan memberikan konseling, saya melihat pekerjaannya sangat mulia karena menolong orang yang sedang kesusahan," kenang Hafiz bangga, menambahkan bahwa ayahnya menempuh pendidikan hingga S3 Ilmu Kepolisian setelah S1 dan S2 Ilmu Psikologi.
Meski begitu, jalan Hafiz tidak sepenuhnya mulus dari ekspektasi keluarga. Ibunya dan neneknya sangat berharap ia mengikuti jejak banyak orang untuk menjadi dokter. "Ibu memang maunya saya jadi dokter karena dulu cita-cita ibu juga dokter. Nenek juga ingin saya jadi dokter," ungkap alumni SMAN 28 Jakarta ini, yang juga sempat bercita-cita menjadi pilot, insinyur teknik sipil, pemain sepak bola, dan akuntan sebelum mantap memilih jalur kepolisian.
Sejak bangku SMA, Hafiz mulai serius mempersiapkan diri untuk Akpol. Dari kelas 10, ia rutin melatih aspek psikologi, jasmani, dan akademik. Latihan fisik empat kali seminggu, latihan psikologi saat libur sekolah, dan bimbingan belajar khusus Akpol di kelas 12 menjadi rutinitasnya. Ia juga aktif berorganisasi sebagai Ketua OSIS di kelas 11 dan berprestasi di kancah internasional dengan meraih Gold Medal World Science Environmental and Engineering Competition pada tahun 2024 dan 2025.
Namun, Hafiz mengakui bahwa seleksi Akpol memberikan tekanan mental yang jauh berbeda dan lebih berat dibandingkan kompetisi ilmiah. "Kalau olimpiade kita mengejar juara. Kalau di sini kita mengejar cita-cita. Rasanya hidup mati ada di sini, jadi tekanannya jauh lebih besar," jelasnya. Ia merasakan betul peningkatan drastis tingkat kesulitan soal di seleksi pusat dibandingkan daerah, terutama matematika yang menuntut analisis mendalam, bukan sekadar hafalan.
Sempat terpukul dengan nilai Tes Potensi Akademik (TPA) yang hanya 68, Hafiz tidak menyerah. Dengan jadwal tes jasmani yang mepet, ia berhasil memotivasi diri untuk bangkit. Hasilnya, nilai kesamaptaan jasmaninya mencapai 93,20, tertinggi se-Polda Metro Jaya. "Itu yang buat semangat saya naik lagi," pungkasnya, menunjukkan semangat pantang menyerah yang ia warisi dari sang ayah dalam mengejar impian masa kecilnya.
