Internationalmedia.co.id melaporkan tragedi tanah longsor yang melanda negara bagian Sabah, Malaysia, setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama sepuluh hari terakhir. Bencana alam ini telah menelan 12 korban jiwa. Lebih dari 2000 warga terpaksa mengungsi dari pemukiman mereka di dataran rendah, termasuk sekitar Kota Kinabalu, ibu kota Sabah.
Insiden paling parah terjadi pada Senin (15/9) ketika longsor menerjang permukiman kumuh di pinggiran Kota Kinabalu, menewaskan sedikitnya delapan orang, termasuk empat anak-anak, menurut laporan media lokal. Tiga korban jiwa lainnya ditemukan di wilayah Gana, sekitar 100 kilometer timur Kota Kinabalu, akibat longsor terpisah. Satu korban lagi, seorang kakek berusia 97 tahun, meninggal dunia setelah tertimbun lumpur di Penampang pekan lalu.

Hujan deras yang terus menerus menyebabkan banjir meluas, memicu tanah longsor, dan merusak rumah serta infrastruktur di Sabah, negara bagian termiskin di Malaysia. Daerah dataran rendah Sabah memang rentan terhadap banjir musiman, terutama antara November hingga Maret.
Menanggapi bencana ini, Wakil Perdana Menteri Malaysia, Ahmad Zahid Hamidi, langsung mengerahkan tim tanggap darurat untuk membantu operasi pencarian dan penyelamatan. Pemerintah Sabah bahkan membatalkan perayaan Hari Malaysia yang dijadwalkan pada Selasa (16/9) untuk fokus menangani bencana ini.
Meskipun hujan telah reda dan banjir mulai surut, kekhawatiran masih membayangi warga. Oliver Golingai (44), seorang warga setempat, mengungkapkan kekhawatirannya akan hujan lebat susulan yang berpotensi memperparah situasi. "Yang bisa kami lakukan hanyalah berusaha tetap tenang saat kami menghadapi banjir dan lumpur di rumah," ujarnya kepada media lokal. Bencana ini menjadi pengingat akan kerentanan wilayah tersebut terhadap bencana alam dan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem.
