Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa ketegangan di Selat Taiwan sedikit mereda setelah kapal-kapal militer dan penjaga pantai Tiongkok mulai menarik diri dari perairan sekitar pulau tersebut. Penarikan ini menyusul latihan perang skala besar yang digelar Beijing selama beberapa hari terakhir. Namun, otoritas Taipei menegaskan bahwa mereka tetap berada dalam status siaga penuh, mengindikasikan kewaspadaan yang tak boleh kendur.
Latihan militer masif yang diberi sandi "Misi Keadilan 2025" tersebut, telah memicu kekhawatiran global. Selama dua hari, Tiongkok mengerahkan puluhan kapal perang, jet tempur, dan kapal penjaga pantai, melancarkan tembakan roket simulasi ke arah Taiwan. Manuver ini, yang berlangsung pada Senin (29/12) dan Selasa (30/12), dirancang untuk mensimulasikan blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan utama Taiwan serta serangan terhadap target-target di laut.

Otoritas Penjaga Pantai Taiwan, melalui pernyataan yang dikutip dari AFP dan Reuters pada Rabu (31/12/2025), mengonfirmasi bahwa mereka tetap dalam kondisi siaga tinggi. Meskipun kapal-kapal Tiongkok mulai menjauh, pusat respons maritim darurat Taiwan masih beroperasi penuh untuk memantau setiap pergerakan. Wakil Direktur Jenderal Otoritas Penjaga Pantai Taiwan, Hsieh Ching-chin, menjelaskan bahwa meski ada indikasi latihan telah usai dengan mundurnya sebagian besar kapal, beberapa di antaranya masih terpantau di luar garis 24 mil laut dari pulau itu.
Senada dengan itu, Kepala Dewan Urusan Kelautan Taiwan, Kuan Bi-ling, dalam unggahan Facebook-nya, menekankan bahwa meskipun situasi di laut telah "tenang" dan kapal-kapal Tiongkok secara bertahap menjauh, Beijing belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai berakhirnya latihan. Oleh karena itu, pusat respons darurat Taiwan akan terus beroperasi. Hsieh Ching-chin menambahkan, Taiwan masih menyiagakan 11 kapal penjaga pantainya di perairan tersebut, mengingat belum semua kapal Tiongkok meninggalkan area sepenuhnya. "Kita tidak boleh lengah sedikit pun," tegas Hsieh, menggarisbawahi pentingnya kewaspadaan berkelanjutan.
Taipei sendiri mengecam keras latihan militer Tiongkok ini, menyebutnya sebagai tindakan "sangat provokatif dan sembrono" yang mengancam keamanan regional. Taiwan juga menegaskan bahwa upaya simulasi blokade oleh Tiongkok tidak berhasil. Latihan ini sendiri disinyalir merupakan respons Beijing terhadap penjualan senjata skala besar oleh Amerika Serikat kepada Taiwan, serta komentar kontroversial dari Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang mengindikasikan potensi respons militer Tokyo jika kekuatan digunakan terhadap Taipei, yang memicu kemarahan Tiongkok.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan situasi di Selat Taiwan, ikuti terus pembaruan di internationalmedia.co.id. Simak juga video terkait: ‘Tiongkok Marah AS Masih ‘Main Api’ dengan Taiwan’.

