Bambang Soesatyo, atau akrab disapa Bamsoet, menyerukan agar sektor ekonomi kreatif diberikan ruang yang lebih luas untuk berkembang menjadi kekuatan produktif yang signifikan. Penegasan ini disampaikan oleh Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar tersebut usai menghadiri acara ‘Parle in Red’ di Parle Senayan Jakarta, Sabtu (22/8) malam. Menurut Internationalmedia.co.id – News, Bamsoet melihat potensi besar pada musik, kuliner, komunitas, dan berbagai industri kreatif lainnya sebagai jembatan yang mempersatukan masyarakat dari beragam latar belakang.
Jakarta, sebagai denyut nadi ekonomi, bisnis, pariwisata, dan industri kreatif, terus menunjukkan pertumbuhan impresif. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekonomi DKI Jakarta pada triwulan II-2026 melonjak 5,52 persen secara tahunan. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi salah satu pendorong utama dengan pertumbuhan mencapai 9,52 persen, sementara konsumsi rumah tangga tetap menjadi tulang punggung pengeluaran Jakarta dengan kontribusi 63,24 persen.

Bamsoet menyoroti tempat-tempat seperti Parle Senayan sebagai contoh nyata ekosistem ekonomi kreatif yang berhasil. "Ketika orang datang menikmati musik, makan, bertemu komunitas, dan berinteraksi, di situ terjadi perputaran ekonomi yang nyata," jelas Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini. Ia menambahkan, dari pekerja, pelaku usaha, musisi, seniman, pekerja kreatif, pemasok makanan, hingga penyedia jasa, semuanya mendapatkan manfaat ekonomi dari kegiatan hiburan yang dikelola dengan baik.
Ketua MPR RI ke-15 ini lebih lanjut memaparkan bahwa industri hiburan dan ekonomi kreatif memiliki efek berantai yang masif. Sebuah pertunjukan musik, misalnya, melibatkan berbagai mata rantai ekonomi mulai dari musisi, pekerja panggung, tata suara, pencahayaan, dokumentasi, transportasi, kuliner, hingga promosi digital. Oleh karena itu, pemerintah dan dunia usaha memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang kondusif agar industri kreatif dapat tumbuh menjadi sektor produktif yang mampu menciptakan lapangan kerja baru dan menghasilkan nilai tambah ekonomi.
"Musik, film, kuliner, desain, fesyen, olahraga, otomotif, hingga konten digital adalah industri yang memiliki pasar luas dan mampu menciptakan lapangan kerja," tegas Bamsoet. Ia menekankan bahwa anak-anak muda Indonesia memiliki kreativitas yang luar biasa. Tugas bersama adalah menyediakan ekosistem yang memungkinkan kreativitas tersebut bertransformasi menjadi karya bernilai, dan karya tersebut pada gilirannya menghasilkan nilai ekonomi yang signifikan.
Acara ‘Parle in Red’ sendiri, yang dihadiri Bamsoet, merupakan perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Dengan nuansa merah dan putih yang melambangkan keberanian dan semangat kebangsaan, acara ini menghadirkan interaksi yang cair dan terbuka, dimeriahkan oleh DJ senior era 90-an seperti DJ Riri, DJ Yasmin, dan DJ Tiara, dalam suasana penuh kebersamaan.
Bamsoet menilai, perayaan kemerdekaan harus menjadi sarana bagi masyarakat untuk menikmati hasil perjuangan para pendiri bangsa, sekaligus mengingat kembali tanggung jawab kolektif dalam mengisi kemerdekaan. "Kemerdekaan adalah milik seluruh rakyat Indonesia. Merayakannya dengan gembira, berkumpul, tertawa, dan menikmati kebersamaan seperti dalam ‘Parle in Red’ juga merupakan bagian dari rasa syukur kita," ujarnya. Ia menegaskan bahwa perayaan kemerdekaan tidak hanya sebatas upacara dan seremoni, tetapi harus terasa dalam kehidupan sehari-hari melalui kesempatan berkarya, bekerja, berusaha, dan berkreativitas.
