Internationalmedia.co.id – Badai Melissa menerjang Karibia dengan kekuatan dahsyat, meninggalkan duka mendalam bagi ribuan warga. Jumlah korban tewas akibat terjangan badai ini terus bertambah, kini mencapai 10 orang. Pihak berwenang setempat telah menetapkan status siaga di sejumlah wilayah yang terdampak.
Pusat Badai Nasional AS (NHC) menggambarkan Badai Melissa sebagai badai yang "sangat berbahaya" meski intensitasnya mulai menurun. Badai ini telah menyebabkan kerusakan signifikan di berbagai wilayah, terutama di Jamaika dan Kuba.

Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel, menyampaikan keprihatinannya atas kerusakan yang meluas akibat badai tersebut. Ia mengimbau seluruh warga untuk tetap waspada dan berlindung di tempat yang aman. "Kerusakan yang luas, dan Badai Melissa masih berada di atas wilayah Kuba," ujarnya.
Warga di bagian timur Kuba berjuang menghadapi rumah-rumah yang terendam banjir dan jalan-jalan yang dipenuhi air. Jendela-jendela pecah, kabel listrik putus, dan atap rumah rusak parah. Sebuah hotel besar di kota tersebut mengalami kerusakan pada jendela dan sebagian atapnya runtuh.
NHC melaporkan bahwa Badai Melissa menghantam dengan kecepatan maksimum 195 kilometer per jam, setelah sebelumnya berfluktuasi antara kategori 3 dan 5, kategori tertinggi dalam skala Saffir-Simpson. Pemerintah Kuba telah mengumumkan ‘keadaan siaga’ di enam provinsi bagian timur.
Di Haiti, sedikitnya 10 orang tewas akibat banjir yang disebabkan oleh badai tersebut. Sungai La Digue, di kota pesisir Petit-Goave, meluap dan menghanyutkan sejumlah warga.
Menurut data Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA), Badai Melissa menyamai rekor tahun 1935 sebagai badai paling kuat yang pernah menghantam daratan ketika menerjang Jamaika pada hari Selasa.
Perdana Menteri Jamaika, Andrew Holness, telah menyatakan pulau itu sebagai ‘daerah bencana’. Pemerintah juga memperingatkan penduduk akan risiko banjir dan tanah longsor yang berkelanjutan.
Dampak kerusakan akibat Badai Melissa masih terus dievaluasi. Menteri pemerintah Jamaika, Desmond McKenzie, mengatakan bahwa beberapa rumah sakit telah rusak, termasuk di Saint Elizabeth, sebuah distrik pesisir yang menurutnya "berada di bawah air." Informasi lebih lanjut mengenai dampak dan upaya penanggulangan bencana akan terus diperbarui oleh internationalmedia.co.id.

