Internationalmedia.co.id melaporkan peningkatan dramatis jumlah warga Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel. Angka tersebut telah melampaui 3.600 jiwa, mencapai rekor tertinggi sepanjang masa. Situasi ini dinilai mengkhawatirkan dan menimbulkan keprihatinan internasional.
Mayoritas tahanan Palestina ditahan melalui proses penahanan administratif, sebuah mekanisme kuasi-yudisial yang memungkinkan penahanan selama enam bulan, yang kemudian dapat diperpanjang tanpa batas waktu tanpa dakwaan atau pengadilan. Praktik ini menuai kecaman luas karena dianggap melanggar hak asasi manusia.

Lebih mengejutkan lagi, beredar laporan tentang pelecehan seksual yang terjadi di dalam penjara-penjara tersebut. Kesaksian mantan tahanan Palestina, Said Abdel Fattah, di PBB mengungkap pengalaman mengerikan yang dialaminya, termasuk penyiksaan fisik dan pelecehan seksual selama penahanannya. Kisah serupa juga disampaikan oleh Mohamed Matar. Keduanya menggambarkan penyiksaan brutal dan penolakan bantuan medis.
Dugaan pelecehan ini mencuat sejak Agustus 2024, setelah beredar video yang menunjukkan tentara Israel melakukan tindakan seksual terhadap tahanan Palestina. Video yang bocor tersebut memicu reaksi keras dari Amerika Serikat, yang melalui juru bicara Departemen Luar Negeri, Matthew Miller, menyatakan "tidak ada toleransi" terhadap tindakan tersebut dan mendesak dilakukannya penyelidikan. Meskipun demikian, hingga saat ini belum ada informasi resmi mengenai perkembangan investigasi tersebut. internationalmedia.co.id akan terus memantau perkembangan situasi dan memberikan informasi terbaru terkait kasus ini.
