Internationalmedia.co.id melaporkan, ancaman keras dilontarkan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, kepada Amerika Serikat dan Israel. Araghchi memperingatkan akan ada balasan lebih tegas dari Iran jika serangan terhadap negaranya terulang. Pernyataan ini muncul sebagai respons atas ancaman Presiden AS Donald Trump yang akan "menghancurkan" program nuklir Iran jika aktivitas nuklirnya berlanjut, menyusul serangan AS bulan lalu.
Dalam unggahan di media sosial X, Araghchi menulis, "Jika agresi terulang, kami tidak akan ragu untuk bereaksi dengan cara yang lebih tegas dan dengan cara yang TIDAK MUNGKIN untuk ditutup-tutupi." Ia menambahkan, jika ada kekhawatiran soal potensi pengalihan program nuklir Iran untuk tujuan non-damai, "opsi militer" terbukti tidak efektif, sementara solusi yang dinegosiasikan mungkin berhasil.

Skala kerusakan akibat serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran bulan lalu masih belum jelas. Serangan tersebut menyusul serangan mendadak Israel yang disebut bertujuan mencegah Iran memproduksi senjata nuklir. Serangan Israel itu sendiri telah menggagalkan negosiasi nuklir AS-Iran yang dimulai April lalu. Konflik yang terjadi selama 12 hari itu berujung pada serangan balasan rudal Iran ke kota-kota Israel dan satu serangan ke pangkalan militer AS di Qatar.
Trump, dalam kunjungannya ke Skotlandia, menegaskan serangan AS bulan lalu telah "menghancurkan potensi nuklir mereka". Ia menambahkan ancaman, "Mereka bisa memulai lagi. Jika mereka melakukannya, kami akan menghancurkannya lebih cepat daripada Anda bisa mengacungkan jari." Pernyataan saling mengancam ini meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
