Ribuan warga Israel menyerbu jalanan, menuntut diakhirinya perang di Gaza. Internationalmedia.co.id melaporkan, demonstrasi besar-besaran ini menjadi sorotan internasional, menunjukkan gelombang penolakan publik terhadap kebijakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Aksi yang berlangsung di Tel Aviv pada Minggu lalu tercatat sebagai salah satu demonstrasi terbesar sejak konflik dengan Hamas pecah pada Oktober 2023.
Para demonstran, yang sebagian besar membawa foto sandera Israel yang masih ditawan di Gaza, menyatakan kekecewaan mereka atas lambannya pemerintah dalam upaya pembebasan sandera dan penghentian perang. Seorang guru bahasa Arab, Ofir Penso, mengungkapkan keprihatinannya, "Kami di sini untuk menegaskan kepada pemerintah bahwa ini mungkin kesempatan terakhir kita untuk menyelamatkan para sandera yang telah ditahan hampir 700 hari." Sentimen serupa diungkapkan Einav Tzangauker, yang anaknya menjadi salah satu sandera, "Kami menuntut kesepakatan komprehensif dan diakhirinya perang. Kami menuntut hak kami—anak-anak kami."

Namun, Netanyahu tetap bergeming. Ia menolak tuntutan tersebut dan menegaskan akan melanjutkan perang, mengatakan bahwa mengakhiri konflik tanpa kekalahan Hamas akan berisiko mengulangi tragedi 7 Oktober 2023. Pernyataan ini semakin memanaskan situasi dan memicu kecaman dari berbagai pihak.
Di tengah gejolak tersebut, ambisi Netanyahu untuk mewujudkan ‘Israel Raya’ kembali menjadi sorotan. Dalam wawancara sebelumnya, ia secara terang-terangan menyatakan dukungannya terhadap visi tersebut, yang mencakup perluasan wilayah Israel ke daerah-daerah di Yordania, Lebanon, dan Suriah. Rencana ini telah memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik dan penolakan keras dari komunitas internasional. Aksi protes rakyat Israel ini menjadi indikator kuat ketidaksetujuan publik terhadap kebijakan Netanyahu yang dinilai semakin agresif dan berpotensi memicu konflik yang lebih besar.