Desakan rakyat Timor Leste berhasil! Rencana pembelian mobil dinas mewah untuk para anggota parlemen akhirnya dibatalkan. Informasi ini didapat Internationalmedia.co.id dari berbagai sumber. Namun, kemenangan ini tak serta merta meredam amarah massa.
Ribuan demonstran, mayoritas mahasiswa, kembali turun ke jalan di Dili pada Rabu (17/9) waktu setempat. Mereka memprotes rencana pengadaan 65 unit SUV Toyota Prado senilai jutaan dolar AS untuk anggota parlemen. Bentrokan antara demonstran dan polisi bahkan terjadi selama dua hari berturut-turut. Salah satu demonstran, Trinito Gaio (42), mengungkapkan kecurigaannya bahwa mobil-mobil tersebut sudah dalam perjalanan, sehingga aksi protes tetap berlanjut. "Uang pajak saya tidak boleh digunakan untuk hal yang salah," tegasnya.

Anggaran sebesar US$ 4,2 juta untuk pembelian mobil mewah tersebut telah disetujui tahun lalu. Tender pengadaan yang dijadwalkan rampung September ini menuai kecaman publik. Pasalnya, lebih dari 40% penduduk Timor Leste hidup dalam kemiskinan, menurut data Bank Dunia. Kondisi ini semakin memperparah kesenjangan sosial yang sudah ada.
Menanggapi tekanan yang semakin kuat, parlemen Timor Leste akhirnya mengambil langkah cepat. Pada Selasa (16/9), mereka secara bulat memutuskan untuk membatalkan proses pengadaan kendaraan baru tersebut. Pernyataan resmi parlemen menyebutkan Sekretariat Jenderal Parlemen akan mengoptimalkan penggunaan kendaraan yang sudah ada.
Meskipun rencana pembelian mobil dinas dibatalkan, Presiden Jose Ramos-Horta menegaskan tidak akan mentoleransi kekerasan selama demonstrasi. Negara termuda di Asia Tenggara ini memang masih berjuang mengatasi berbagai masalah, seperti kemiskinan, malnutrisi, dan pengangguran, dengan perekonomian yang sangat bergantung pada sektor minyak. Peristiwa ini menjadi sorotan tajam tentang bagaimana tekanan publik dapat memaksa perubahan di tengah kondisi sosial ekonomi yang sulit.
