Internationalmedia.co.id – Pemerintah Taliban mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam karena Afghanistan tidak diundang untuk berpartisipasi dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) COP30 yang akan diselenggarakan di Brasil. Padahal, Afghanistan merupakan salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim global.
Badan Perlindungan Lingkungan Nasional Afghanistan (NEPA) menyampaikan keprihatinannya atas fakta bahwa Afghanistan belum menerima undangan resmi ke COP30. Mereka berpendapat bahwa isolasi diplomatik yang dialami Afghanistan seharusnya tidak menjadi penghalang bagi partisipasi mereka dalam perundingan iklim internasional.

"Pengecualian hak rakyat Afghanistan untuk berpartisipasi dalam konferensi ini bertentangan dengan prinsip-prinsip keadilan iklim, kerja sama global, dan solidaritas kemanusiaan," tegas NEPA dalam sebuah pernyataan resmi.
Meskipun kontribusi emisi gas rumah kaca Afghanistan hanya sekitar 0,06% dari total global, negara ini sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Sekitar 89% penduduk Afghanistan bergantung pada sektor pertanian untuk kelangsungan hidup mereka, yang sangat terpengaruh oleh perubahan pola cuaca dan kekeringan.
Menurut PBB, Afghanistan telah mengalami kekeringan berulang antara tahun 2020 dan 2025, yang secara signifikan mengurangi muka air tanah dan berdampak parah pada kemampuan negara untuk mengatasi dampak perubahan iklim.
Menjelang COP30, PBB memperingatkan bahwa tahun 2025 diperkirakan akan menjadi salah satu tahun terpanas yang pernah tercatat, yang semakin memperburuk kerentanan Afghanistan terhadap perubahan iklim.

