Ketegangan di Semenanjung Korea kembali meningkat. Internationalmedia.co.id melaporkan, Kim Yo Jong, adik pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, melontarkan kecaman keras terhadap latihan militer gabungan Amerika Serikat (AS), Korea Selatan (Korsel), dan Jepang. Latihan gabungan bertajuk "Freedom Edge" yang dimulai Senin (15/9) itu dianggap sebagai provokasi.
Kim Yo Jong, melalui kantor berita resmi Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA), mengancam akan ada "konsekuensi negatif" bagi ketiga negara tersebut. Ia menyebut latihan gabungan itu sebagai "unjuk kekuatan yang sembrono" dan dilakukan di lokasi yang salah, yaitu di sekitar Korea Utara. Pernyataan ini disampaikan pada Minggu (14/9).

Bukan hanya Kim Yo Jong, Pak Jong Chon, pejabat tinggi partai buruh yang berkuasa di Korut, juga turut memberikan peringatan. Ia menyatakan bahwa jika "kekuatan musuh" terus memamerkan kekuatan melalui latihan gabungan, Pyongyang akan memberikan balasan yang lebih tegas.
Latihan gabungan AS-Korsel-Jepang ini memang bertujuan meningkatkan kemampuan operasional udara, laut, dan siber dalam menghadapi ancaman nuklir dan rudal Korut. Namun, Korut selama ini selalu menganggap latihan gabungan tersebut sebagai latihan invasi. Sementara AS dan Korsel menegaskan latihan tersebut murni bersifat defensif.
Peringatan keras ini muncul setelah Kim Jong Un sendiri menyatakan dalam pertemuan penting partai berkuasa bahwa Korut akan meningkatkan persenjataan nuklir dan kekuatan militer konvensionalnya. Sejak pertemuan puncak dengan AS yang gagal pada 2019, Korut menegaskan tidak akan pernah menyerahkan senjata nuklirnya dan menyatakan diri sebagai negara nuklir yang "tidak dapat diubah". Kim Jong Un bahkan menekankan perlunya "memodernisasi" angkatan bersenjata konvensional negaranya. Situasi di Semenanjung Korea pun semakin memanas.
