Internationalmedia.co.id – Banjir bandang yang melanda wilayah selatan Thailand telah merenggut nyawa ratusan orang. Otoritas setempat mengumumkan jumlah korban tewas akibat bencana ini telah mencapai 267 jiwa. Distrik Hat Yai menjadi wilayah dengan jumlah korban terbanyak.
Juru bicara Kementerian Kesehatan Thailand, Ekachai Piensriwatchara, mengumumkan bahwa dari total 267 korban tewas, sedikitnya 142 orang berasal dari distrik Hat Yai, sebuah destinasi wisata populer di Provinsi Songkhla. Hujan deras yang memicu banjir dahsyat ini terjadi pada akhir November, berdampak pada lebih dari 1,4 juta rumah tangga dan 3,8 juta penduduk di 12 provinsi.

Skala banjir yang meluas dan tingginya angka kematian telah memicu gelombang kritik terhadap pemerintah Thailand. Dua pejabat lokal bahkan telah dinonaktifkan karena dianggap gagal menangani krisis ini. Perdana Menteri (PM) Thailand, Anutin Charnvirakul, menyampaikan permohonan maaf atas ketidakmampuan negara dalam melindungi warganya dari bencana banjir.
Dalam kunjungannya ke wilayah terdampak banjir, termasuk Hat Yai, PM Anutin mengakui adanya kekurangan dalam penanggulangan banjir dan berjanji untuk melakukan perbaikan. Ia juga menyinggung karakteristik geografis Songkhla yang berbentuk "cekungan", khususnya Hat Yai, yang memerlukan perubahan desain jalan untuk meningkatkan drainase. Selain itu, ia menekankan pentingnya sistem peringatan evakuasi yang lebih efektif.
Sebagai bentuk kompensasi, pemerintah Thailand akan memberikan bantuan sebesar 2 juta Baht (sekitar Rp 1 miliar) kepada keluarga setiap korban tewas akibat banjir. Juru bicara pemerintah, Siripong Angkasakulkiat, menjelaskan bahwa kompensasi ini hanya berlaku untuk korban tewas di Songkhla, yang telah dinyatakan sebagai wilayah darurat. Proses pemberian bantuan akan dipercepat dengan menghapus persyaratan dokumen dan birokrasi yang rumit. Informasi ini dilansir dari Internationalmedia.co.id.
