Internationalmedia.co.id – Topan Kalmaegi menerjang Filipina dengan kekuatan mematikan, meninggalkan duka mendalam dengan sedikitnya 140 korban jiwa dan 127 orang hilang. Bencana banjir bandang yang melanda Filipina tengah ini disebut-sebut sebagai yang terparah di tahun 2025, bahkan kini topan tersebut mengancam Vietnam.
Kota-kota di Provinsi Cebu lumpuh akibat banjir yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mobil-mobil tersapu arus, gubuk-gubuk di tepi sungai hancur, bahkan kontainer pengiriman besar pun tak luput dari amukan Kalmaegi.

Kantor Pertahanan Sipil Nasional Filipina mengkonfirmasi 114 kematian, namun jumlah ini belum termasuk 28 korban tambahan yang dicatat oleh otoritas provinsi Cebu. Di Liloan, dekat Kota Cebu, pemandangan pilu terlihat jelas. Mobil-mobil bertumpukan, atap-atap bangunan robek, sementara warga berusaha menggali lumpur.
Chyros Roa, seorang ayah dua anak, menceritakan bagaimana keluarganya selamat berkat gonggongan anjingnya yang memperingatkan mereka akan datangnya banjir bandang. Presiden Ferdinand Marcos telah mendeklarasikan "bencana nasional", memungkinkan pemerintah untuk mengucurkan dana bantuan dan menetapkan batas harga tertinggi untuk kebutuhan pokok.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia memperparah kekuatan badai. Lautan yang lebih hangat memungkinkan topan menguat dengan cepat, dan atmosfer yang lebih hangat menahan lebih banyak kelembapan, yang berarti curah hujan yang lebih deras.
