Internationalmedia.co.id – Gelombang serangan udara Rusia kembali menghantam Kyiv, Ukraina, dan sekitarnya, menyebabkan sedikitnya enam orang tewas, termasuk anak-anak. Serangan ini juga memicu pemadaman listrik massal di seluruh wilayah Ukraina, menambah penderitaan warga di tengah musim dingin yang membekukan.
Presiden Volodymyr Zelensky mengungkapkan kemarahannya melalui media sosial, menyatakan bahwa serangan ini membuktikan Rusia tidak berniat mengakhiri perang. "Malam ini membuktikan bahwa Rusia tidak merasa cukup tertekan untuk mengakhiri perang," tegas Zelensky. Ia menambahkan, "Hingga saat ini, sedikitnya 17 orang luka-luka. Sangat disayangkan, enam orang tewas, dengan dua di antaranya masih anak-anak."

Jurnalis Internationalmedia.co.id di Kyiv melaporkan mendengar serangkaian ledakan dahsyat dan melihat asap tebal membubung ke angkasa. Kementerian Energi Ukraina menyatakan bahwa serangan Rusia secara khusus menargetkan infrastruktur energi, menyebabkan ribuan orang kehilangan akses terhadap pemanas dan listrik di tengah cuaca ekstrem. "Akibat serangan rudal dan drone besar-besaran terhadap infrastruktur energi, pemadaman listrik darurat telah diberlakukan di sebagian besar wilayah Ukraina," demikian pernyataan resmi kementerian.
Di sisi lain, Rusia mengklaim telah berhasil mencegat 33 drone Ukraina semalam, tanpa melaporkan kerusakan signifikan akibat serangan tersebut. Serangan ini terjadi setelah pembatalan pertemuan antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang sebelumnya diharapkan dapat membuka jalan bagi perundingan damai. Trump, yang sempat menjanjikan pertemuan di Budapest dalam waktu dua minggu, tiba-tiba membatalkan rencana tersebut dengan alasan tidak ingin pertemuan yang "sia-sia." Alasan pasti pembatalan ini masih belum jelas.
