Internationalmedia.co.id – Kekerasan kembali terjadi di Tepi Barat. Seorang wanita Palestina dilaporkan menjadi korban pemukulan brutal oleh seorang pemukim Israel saat sedang memanen zaitun di tanah miliknya. Insiden yang terjadi di desa Turmus Ayya, sebelah timur laut Ramallah, pada Minggu (19/10) pagi waktu setempat ini terekam oleh seorang jurnalis asal Amerika Serikat (AS).
Jasper Nathaniel, jurnalis AS yang berada di lokasi kejadian, menyaksikan langsung bagaimana seorang pemukim Israel bertopeng menyerang wanita berusia 55 tahun tersebut dengan tongkat. Serangan itu terus berlanjut hingga korban jatuh pingsan dengan luka-luka di tubuhnya. Video yang merekam kejadian ini pun viral di media sosial, menunjukkan wanita Palestina itu berdarah saat dievakuasi ke rumah sakit.

Nathaniel menuturkan bahwa aksi brutal ini dilakukan di bawah pengawalan tentara Israel. Ia bahkan menuding tentara Israel sengaja menjebak mereka untuk serangan tersebut. "Tentara-tentara menjebak kami untuk serangan ini. Kami dihadang di salah satu sisi oleh para pemukim bersenjata api dan tidak ada jalan keluar," ungkapnya dalam sebuah video yang diunggah ke media sosial.
Klaim militer Israel yang menyatakan telah membubarkan konfrontasi saat tiba di lokasi kejadian dibantah oleh Nathaniel. Ia mengatakan bahwa tentara-tentara tersebut "pergi dengan jip mereka" tepat sebelum para pemukim Israel melancarkan serangan terhadap wanita Palestina itu.
Serangan ini menambah daftar panjang insiden kekerasan yang dilakukan oleh pemukim Yahudi terhadap warga Palestina, terutama saat musim panen zaitun. Selain pemukulan, aksi-aksi lain seperti pelemparan batu, pembakaran, pencabutan pohon zaitun, hingga pengusiran petani Palestina dari lahan mereka sendiri kerap terjadi, seringkali di bawah perlindungan tentara Israel.
Data dari kantor kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau OCHA menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2025, lebih dari 3.200 warga Palestina mengalami luka-luka akibat serangan-serangan pemukim Israel di wilayah Tepi Barat. Aksi kekerasan ini memicu kemarahan dan kecaman dari berbagai pihak.
