Internationalmedia.co.id – Ketegangan kembali memanas setelah pasukan Israel mencegat sejumlah kapal yang membawa bantuan kemanusiaan menuju Jalur Gaza. Insiden ini terjadi setelah misi Global Sumud Flotilla digagalkan pekan lalu. Pemerintah Turki pun meradang, menyebut tindakan Israel sebagai "aksi pembajakan" yang tidak dapat diterima.
Komite Internasional untuk Mematahkan Pengepungan terhadap Gaza melaporkan bahwa tiga kapal dari Freedom Flotilla Coalition (FFC) dicegat oleh Angkatan Laut Israel di perairan internasional, sekitar 222 kilometer dari pantai Jalur Gaza, pada Rabu (8/10) pagi.

"Intervensi di perairan internasional terhadap Freedom Flotilla merupakan aksi pembajakan yang dilakukan oleh pemerintahan (Perdana Menteri Israel Benjamin) Netanyahu yang melakukan genosida," kecam Kementerian Luar Negeri Turki dalam pernyataan resminya.
Ankara juga mengungkapkan bahwa beberapa anggota parlemen Turki turut berada di dalam kapal-kapal tersebut. Kementerian Luar Negeri Turki mengecam keras pencegatan ini sebagai "serangan" yang melanggar hukum internasional.
"Serangan terhadap para aktivis sipil ini, termasuk warga negara dan anggota parlemen Turki, merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional," tegas Kementerian Luar Negeri Turki. Mereka menambahkan bahwa tindakan Israel meningkatkan ketegangan di kawasan dan melemahkan upaya perdamaian.
Komite Internasional mengonfirmasi bahwa tiga kapal, Gaza Sunbird, Alaa Al-Najjar, dan Anas Al Sharif, "diserang dan dicegat secara ilegal oleh militer Israel pada pukul 04.34 pagi, sekitar 220 kilometer dari lepas pantai Gaza".
Pencegatan itu bahkan terekam dalam siaran langsung di YouTube, namun terputus setelah tentara Israel merusak kamera pada salah satu kapal. Konvoi ini terdiri dari sembilan kapal yang membawa bantuan senilai lebih dari US$ 100.000 berupa obat-obatan, peralatan pernapasan, dan pasokan nutrisi untuk rumah sakit di Gaza.
Sebelumnya, pasukan Israel juga mencegat lebih dari 40 kapal Global Sumud Flotilla di dekat Jalur Gaza dan menahan lebih dari 450 aktivis, termasuk aktivis Swedia Greta Thunberg.
