Pengakuan empat negara Barat, Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal terhadap negara Palestina, yang diberitakan Internationalmedia.co.id, menimbulkan reaksi keras dari Israel. Dua menteri kontroversial, Itamar Ben Gvir dan Bezalel Smotrich, bahkan mendesak pemerintah untuk segera mencaplok Tepi Barat sebagai balasan.
Pengumuman pengakuan empat negara tersebut, yang disampaikan Minggu (21/9/2025) oleh para pemimpinnya, didasari oleh kekecewaan atas konflik Gaza dan harapan untuk mendorong solusi dua negara. Langkah ini menyusul lebih dari 140 negara lain yang telah lebih dulu mengakui Palestina. Namun, bagi Ben Gvir, Menteri Keamanan Nasional Israel, pengakuan ini justru menjadi pemicu tindakan tegas. Ia menyerukan penerapan kedaulatan atas Yudea dan Samaria (sebutan Israel untuk Tepi Barat) dan pembubaran Otoritas Palestina. Ben Gvir bahkan berjanji akan mengajukan proposal aneksasi dalam rapat kabinet mendatang.

Sentimen serupa diungkapkan Menteri Keuangan, Bezalel Smotrich. Ia menganggap masa dimana negara lain menentukan nasib Israel telah berakhir dan satu-satunya respons atas pengakuan Palestina adalah pencaplokan Tepi Barat. Smotrich secara langsung meminta Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk segera bertindak.
Netanyahu sendiri mengecam keras pengakuan tersebut, menyebutnya sebagai "hadiah besar bagi terorisme" dan menegaskan pendirian Israel yang menolak berdirinya negara Palestina di sebelah barat Sungai Yordan. Ia menyatakan Israel akan melawan langkah ini di PBB pekan depan dan melawan propaganda yang mendukung terbentuknya negara Palestina. Pernyataan keras Netanyahu ini menunjukkan betapa seriusnya Israel menanggapi pengakuan empat negara Barat tersebut. Konflik ini diperkirakan akan semakin memanas dalam beberapa hari mendatang.
