Lonjakan harga beras di Jepang mencapai angka yang mengejutkan. Internationalmedia.co.id melaporkan data resmi menunjukkan kenaikan harga beras hingga 90,7 persen pada Juli 2025 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meskipun laju kenaikannya melambat dibanding bulan-bulan sebelumnya, angka ini tetap menjadi pukulan telak bagi Perdana Menteri Shigeru Ishiba. Posisi politiknya kian rapuh setelah koalisinya kehilangan mayoritas parlemen, dipicu oleh kemarahan publik atas inflasi yang meroket.
Kenaikan harga beras, menurut laporan AFP, disebabkan oleh berbagai faktor. Musim panas ekstrem tahun 2023 yang mengganggu pasokan, diikuti oleh aksi panic buying pasca "gempa dahsyat" tahun lalu, menjadi penyebab utama. Secara keseluruhan, inflasi inti Jepang memang turun menjadi 3,1 persen dari 3,3 persen di bulan Juni, namun masih di atas target 2 persen Bank of Japan. Hal ini meningkatkan spekulasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral dalam waktu dekat.

Bank of Japan sendiri terakhir menaikkan suku bunga pada Januari lalu, namun masih enggan memperketat kebijakan moneter lebih lanjut. Mereka beranggapan inflasi yang tinggi disebabkan faktor sementara, termasuk harga beras. Sebagai perbandingan, harga beras pada Juni lalu mencapai 100,2 persen lebih tinggi dari tahun sebelumnya, dan 101,7 persen pada Mei.
Pemerintah Jepang berupaya mengatasi masalah ini. PM Ishiba telah menunjuk Menteri Pertanian baru dan melepaskan stok beras darurat. Lebih jauh, pemerintah juga mengumumkan perubahan kebijakan pertanian yang telah berlangsung puluhan tahun, mendorong petani untuk menanam komoditas selain beras. Di sisi lain, Amerika Serikat juga mendesak Jepang untuk meningkatkan impor beras dari negara tersebut.

