Internationalmedia.co.id melaporkan situasi mencekam di Gaza. Bukan hanya serangan rudal Israel yang mengancam nyawa, warga Gaza juga berjuang melawan kelaparan akibat keterbatasan akses pangan dan blokade ketat pasukan Israel. Laporan dari tiga jurnalis lepas BBC News yang berada di lokasi menggambarkan situasi ini sebagai "masa paling berat yang pernah dialami," krisis kemanusiaan yang penuh penderitaan dan kekurangan. Meski belum diklasifikasikan sebagai bencana kelaparan oleh pakar, PBB telah memperingatkan potensi kelaparan massal akibat ulah manusia di wilayah tersebut. Israel sendiri membantah bertanggung jawab atas krisis pangan ini.
Para jurnalis, yang identitasnya dirahasiakan demi keselamatan, menceritakan kepiluan tak mampu memberi makan keluarga, terutama anak-anak dan kelompok rentan. Seorang juru kamera dengan empat anak, salah satunya autis, menggambarkan anaknya yang kelaparan sampai memukul-mukul perutnya. Seorang jurnalis muda di Gaza selatan, tulang punggung keluarganya, bercerita tentang keputusasaannya mencari makanan untuk orang tua dan saudara-saudaranya, termasuk air bersih yang semakin langka dan tercemar.

Kondisi para jurnalis pun memprihatinkan. BBC News, AFP, AP, dan Reuters mendesak Israel untuk membuka akses bagi wartawan. Kelelahan, kekurangan gizi, dan tekanan mental membuat peliputan semakin sulit. Seorang jurnalis senior BBC bahkan kehilangan 30 kilogram berat badan akibat situasi yang telah berlangsung selama 21 bulan. Mereka menggambarkan kondisi fisik dan mental yang memburuk, dengan kelelahan ekstrem dan gangguan konsentrasi.
Harga kebutuhan pokok melambung tinggi. Meski sebelumnya masih mampu membeli, kini pasar kosong dan sebagian besar warga mengandalkan dapur umum. Anak-anak hanya makan sekali sehari dengan makanan seadanya seperti lentil, nasi, dan pasta. Air putih dicampur garam menjadi penyelamat sementara dari rasa lapar, sementara biskuit 50 gram seharga 30 shekel (sekitar Rp147.000) menjadi barang mewah. Mendapatkan uang tunai pun menjadi perjuangan tersendiri, dengan biaya penarikan informal mencapai 45%.
Israel mengklaim lebih dari 120 truk bantuan makanan telah masuk Gaza selama jeda pertempuran, didistribusikan oleh PBB dan badan kemanusiaan. Namun, tuduhan penggunaan kelaparan sebagai senjata perang terus mengemuka, sementara Israel balik menyalahkan lambannya distribusi bantuan oleh badan-badan kemanusiaan. Bantuan udara juga telah dilakukan oleh Israel, Yordania, dan Uni Emirat Arab. Situasi ini menyoroti urgensi gencatan senjata untuk memungkinkan penyaluran bantuan kemanusiaan secara besar-besaran.
