Internationalmedia.co.id melaporkan, setelah Israel mengumumkan jeda pertempuran terbatas, lebih dari 120 truk bantuan makanan berhasil masuk ke Jalur Gaza pada hari pertama. Klaim ini disampaikan oleh otoritas Israel, menyebut bantuan tersebut didistribusikan oleh PBB dan lembaga kemanusiaan lainnya. Informasi ini disampaikan internationalmedia.co.id mengutip laporan AFP, Senin (28/7/2025).
COGAT, badan kementerian pertahanan Israel yang menangani urusan sipil di wilayah Palestina, menyatakan bahwa proses distribusi melibatkan PBB dan organisasi internasional. Lebih lanjut, COGAT menambahkan bahwa 180 truk tambahan telah memasuki Gaza dan tengah menunggu proses pengumpulan dan distribusi, dengan ratusan truk lain masih mengantre.

Selain jalur darat, bantuan juga disalurkan melalui udara. Israel, Yordania, dan Uni Emirat Arab diketahui telah melakukan penyaluran bantuan via udara dengan menggunakan parasut, meskipun dalam jumlah yang lebih kecil.
Situasi kemanusiaan di Gaza memang kritis. Lebih dari dua juta warga Palestina tinggal di wilayah tersebut, dan sebelum konflik meletus Oktober 2023, dibutuhkan sekitar 500 truk per hari untuk memenuhi kebutuhan perdagangan dan bantuan kemanusiaan. Kekhawatiran akan kelaparan pun semakin meningkat seiring menipisnya pasokan.
Pemerintah Israel membantah tuduhan menggunakan kelaparan sebagai senjata perang. Mereka justru menyalahkan lembaga-lembaga kemanusiaan atas lambannya pengumpulan dan distribusi bantuan di perbatasan Gaza. COGAT menegaskan, distribusi bantuan yang lebih efektif akan menjangkau lebih banyak warga Gaza yang membutuhkan. Namun, pertanyaan besar tetap muncul: apakah jeda pertempuran ini benar-benar membuka akses bantuan secara signifikan, atau hanya sekadar manuver politik?
