Presiden Prabowo Subianto menjadi sorotan utama di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 BRICS 2026 yang berlangsung di New Delhi, India. Kehadiran Prabowo, yang mewakili Indonesia sebagai anggota baru, disambut hangat oleh tuan rumah. Dalam kesempatan itu, Prabowo secara khusus melayangkan pujian terhadap kepemimpinan Perdana Menteri India, Sri Narendra Modi. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa KTT ini menjadi panggung penting bagi Indonesia di kancah global.
Bertempat di Bharat Mandapam pada Sabtu, 12 September, KTT BRICS mempertemukan sejumlah kepala negara dan pemerintahan dari negara-negara belahan bumi selatan, termasuk Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Prabowo mengungkapkan rasa terima kasihnya atas sambutan dan keramahan yang luar biasa. "Izinkan saya terlebih dahulu menyampaikan terima kasih kepada tuan rumah dan ketua tahun ini atas sambutan hangat serta keramahan luar biasa yang diberikan kepada delegasi kami," ujar Prabowo, seperti dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden pada Minggu, 13 September 2026. Ia menambahkan, "Saya juga ingin mengapresiasi kepemimpinan hebat yang ditunjukkan oleh Perdana Menteri Sri Narendra Modi dalam memimpin BRICS."

Menjadi kehormatan besar bagi Prabowo untuk bergabung dengan para pemimpin dunia dalam forum strategis ini. Ia menyoroti cepatnya proses penerimaan Indonesia sebagai anggota penuh BRICS. "Kami adalah anggota baru BRICS, dan kami ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh pendiri BRICS yang telah menerima kami dengan sangat cepat sebagai anggota organisasi baru yang hebat ini, yang mewakili separuh dari umat manusia," tegas Prabowo.
Dalam pidatonya, Prabowo menggarisbawahi filosofi kuno Indonesia: ‘Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh’. Pepatah ini, menurutnya, bukan sekadar kata-kata, melainkan cerminan semangat yang pernah menyatukan negara-negara Asia dan Afrika di Bandung beberapa dekade silam. Semangat persatuan inilah yang menjadi fondasi kekuatan BRICS.
Prabowo menambahkan bahwa melalui BRICS, suara negara-negara berkembang, khususnya dari belahan bumi selatan, kini dapat didengar lebih lantang. Negara-negara yang dahulu berjuang melawan imperialisme dan kolonialisme, kini berdiri sejajar sebagai mitra. "Kami memahami bahwa dengan bersatu, suara kami akan terdengar lebih luas. Kepentingan kami dapat lebih terlindungi dan diperjuangkan. Pelajaran ini tetap sangat penting. Dengan bersatu, kami juga menjadi lebih kuat," pungkasnya.
