Internationalmedia.co.id – News – Operasional penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) dan enam bandara lainnya masih ditutup hingga Senin, 7 September 2026 pukul 23.59 WIB. Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menjelaskan, keputusan ini diambil meskipun hasil paper test abu vulkanik menunjukkan negatif. Perpanjangan penutupan ini menjadi sorotan utama bagi ribuan penumpang yang terdampak.
Berbicara kepada wartawan di Terminal 1 Bandara Soetta, Dudy Purwagandhi menyatakan, "Berdasarkan evaluasi yang kami lihat, kami memutuskan untuk memperpanjang penutupan sementara bandara, ya di 7 bandara itu menjadi sampai dengan pukul 23.59. Ini relatif lebih pendek dari penutupan yang sebelumnya." Penutupan ini dilakukan sebagai langkah antisipasi dan keselamatan penerbangan mengingat dinamika sebaran abu vulkanik.

Menurut informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), arah angin saat ini terpantau menuju barat daya dengan kecepatan 10 knot. Menhub Dudy menegaskan bahwa kunci pembukaan kembali bandara-bandara yang terdampak, khususnya yang berada di sekitar Gunung Anak Krakatau, adalah pergeseran arah angin yang membawa abu vulkanik menjauh dari area bandara.
"Apabila bergeser lebih menjauhi dari bandara-bandara yang sekitaran Gunung Anak Krakatau, maka kita bisa mempertimbangkan untuk membuka bandara-bandara yang terdampak. Jadi, mohon doanya semoga arah angin dan juga kecepatan bisa memperbaiki situasi," jelas Dudy, menunjukkan harapan besar pada perubahan kondisi alam.
Meskipun demikian, Dudy tidak dapat memberikan jaminan pasti mengenai pembukaan Bandara Soetta esok hari. Ia menaruh harapan pada pembaruan data dari Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) yang dijadwalkan akan diperbarui sebanyak dua kali antara pukul 18.00 hingga 23.59 WIB. "Dengan dua kali pembaruan kondisi terakhir, kita harapkan bahwa ada terjadi perubahan yang lebih baik. Di mana debu bisa semakin mengarah ke barat daya atau ke Samudra Hindia," ungkapnya.
Menhub Dudy menutup pernyataannya dengan permohonan doa agar kondisi membaik. "Kita berdoa. Insyaallah mudah-mudahan bisa berjalan sebagaimana yang kita harapkan. Karena kita tidak berani menjanjikan, sebagaimana Teman-teman ketahui, arah angin begitu dinamis." Ia menambahkan bahwa arah angin dapat berbeda di berbagai lapisan atmosfer, dengan potensi pergeseran ke timur di lapisan bawah dan ke barat di lapisan atas. Konsistensi arah angin ke barat daya atau Samudra Hindia menjadi faktor penentu utama untuk mengembalikan operasional penerbangan ke kondisi normal.
