Kebakaran hebat melanda tempat pembuangan sampah (TPA) liar Waringinkurung, Kabupaten Serang, Banten, dan belum juga menunjukkan tanda-tanda padam. Pihak kepolisian kini tengah mendalami dugaan adanya oknum tak bertanggung jawab yang sengaja membuang sampah di lokasi tersebut, memicu insiden yang kini menjadi perhatian publik. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa insiden ini pertama kali diketahui warga pada Jumat (28/8) sekitar pukul 18.00 WIB, saat api mulai berkobar di Kampung Pranje, Desa Waringinkurung.
Kapolsek Waringinkurung Iptu Hari Purwanto menjelaskan, lahan yang terbakar dulunya merupakan bekas galian bata sebelum difungsikan sebagai TPA sementara oleh Pemkab Serang sejak tahun 2020. Lahan ini sendiri adalah aset milik Pemkot Serang. Meski operasional TPA Waringinkurung telah ditutup sejak beberapa tahun lalu, setelah Pemkab Serang diizinkan membuang sampah di TPA Cilowong, dugaan aktivitas pembuangan ilegal masih mencuat.

"Kami sedang menindaklanjuti perintah pimpinan untuk menyelidiki. Ada kekhawatiran setelah penutupan, masih ada oknum yang membuang sampah di sana, bahkan mungkin memanfaatkannya secara komersial," ujar Hari, Minggu (30/8). Ia menambahkan, penutupan operasional TPA Waringinkurung telah dilakukan sejak beberapa tahun silam, dan Pemkab Serang telah resmi diizinkan untuk membuang sampah di TPA Cilowong yang berlokasi di Gunungsari.
Hari menambahkan, pasca-penutupan, area TPA Waringinkurung dipenuhi ilalang yang tumbuh subur menutupi gunungan sampah lama. Api yang bermula dari ilalang tersebut dengan cepat merembet ke tumpukan sampah kering di bawahnya. "Yang terbakar saat ini bukan ilalangnya, melainkan sisa sampah bertahun-tahun lalu yang tertumpuk. Anehnya, beberapa sampah baru yang kami temukan justru tidak terbakar, hanya yang sudah lama dan kering," jelasnya.
Kerahkan Alat Berat untuk Padamkan Api Bawah Tanah
Untuk mengatasi kobaran api yang tak kunjung padam, tim gabungan dari berbagai instansi telah dikerahkan. Empat unit mobil pemadam kebakaran dan satu unit alat berat jenis ekskavator beroperasi di lokasi. "Api besar sudah tidak ada, namun asap masih tebal karena titik api berada di bawah permukaan tumpukan sampah, membuatnya sulit dipadamkan," kata Kapolsek Hari.
Hari menjelaskan, alat berat berfungsi untuk mengurai dan membuka tumpukan sampah, sehingga petugas pemadam dapat menjangkau langsung titik api. Pihak kepolisian juga berupaya menambah alat berat guna mempercepat proses pemadaman. "Jadi, alat berat ini esensial untuk mengurai tumpukan, agar Damkar bisa memadamkan api tepat di titiknya," imbuhnya.
Warga Keluhkan Sesak Napas Akibat Asap Pekat
Dampak kebakaran ini sangat dirasakan oleh warga sekitar TPA liar Waringinkurung. Lisna Hasbullah, warga Kampung Cibeka yang berjarak sekitar 400 meter dari lokasi, melaporkan bahwa api masih terlihat menyala di malam hari, bahkan terdengar letupan-letupan seperti petasan. "Ini menyala lagi, anak-anak bilang seperti petasan," kata Lisna kepada wartawan, Sabtu (29/8).
Bau asap menyengat telah menyelimuti permukiman warga, termasuk rumah Lisna yang berjarak sekitar 700 meter. Banyak warga mengeluhkan sesak napas akibat paparan asap tebal yang terus-menerus. Kondisi ini menunjukkan betapa seriusnya dampak lingkungan dan kesehatan yang ditimbulkan oleh kebakaran TPA liar tersebut.
