Sebuah video viral yang menampilkan seorang pelajar SMP dengan wajah terluka parah di Cileungsi, Bogor, baru-baru ini menyita perhatian publik. Rekaman yang beredar luas di media sosial tersebut awalnya memicu spekulasi tentang aksi pengeroyokan brutal. Namun, Internationalmedia.co.id – News berhasil menguak fakta sebenarnya di balik insiden yang terjadi pada Kamis lalu di Pasir Angin, Cileungsi.
Menanggapi kehebohan tersebut, Kapolsek Cileungsi, Kompol Edison, segera bergerak cepat. Setelah melakukan penyelidikan mendalam, Kompol Edison mengonfirmasi bahwa narasi pengeroyokan yang beredar di media sosial tidaklah benar. "Dari hasil penyelidikan, polisi menemukan fakta bahwa kejadian tersebut bukan merupakan pengeroyokan seperti informasi yang sebelumnya beredar di media sosial," ujarnya kepada wartawan pada Jumat (14/8).

Fakta yang terungkap justru menunjukkan bahwa korban sengaja ditakut-takuti oleh sekelompok pelajar lain. Mereka memepet sepeda motor korban saat melaju di jalan. "Dalam kejadian tersebut, korban diduga ditendang hingga kehilangan keseimbangan dan tersungkur," jelas Kompol Edison. Akibatnya, pelajar tersebut mengalami luka goresan serius pada bagian wajah dan kaki, sesuai dengan kondisi yang terlihat dalam video viral.
Tak butuh waktu lama, pihak kepolisian berhasil mengamankan sekitar 20 anak yang diduga terlibat dalam insiden tersebut. Penyelidikan awal mengindikasikan bahwa aksi ini dipicu oleh perselisihan dan permusuhan antar sekolah. "Para pelajar diduga sengaja memepet korban karena berbeda sekolah dan adanya permusuhan antarsekolah," beber Kompol Edison.
Dalam proses pemeriksaan yang turut disaksikan oleh para orang tua, terungkap pula bahwa sejumlah anak yang diamankan mengakui telah mengonsumsi minuman keras. Meski demikian, pihak keluarga korban memilih untuk tidak membuat laporan polisi. Mereka menginginkan persoalan ini diselesaikan melalui jalur mediasi secara kekeluargaan.
Menutup pernyataannya, Kompol Edison dengan tegas mengingatkan seluruh pelajar agar menjauhi segala bentuk kekerasan, tawuran, atau tindakan lain yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Ia juga mengimbau para orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap pergaulan anak-anak mereka, termasuk mengetahui aktivitas dan lingkungan pertemanan mereka.
"Perbedaan sekolah maupun perselisihan antarpelajar tidak boleh menjadi alasan untuk melakukan tindakan kekerasan di jalan. Kasus ini menjadi pengingat bahwa aksi saling menakut-nakuti antarpelajar dapat berujung pada korban luka dan persoalan hukum," pungkasnya.
