Jakarta – Sebuah konten promosi rumah sakit di Penang, Malaysia, mendadak viral dan memicu reaksi keras dari berbagai pihak. Diduga kuat sebagai ‘black campaign’, konten ini menyoroti tajam Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin dan disebut sebagai teguran keras bagi pemerintah untuk terus membenahi sistem layanan kesehatan nasional oleh Anggota Komisi IX DPR, Irma Suryani Chaniago. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa polemik ini bermula dari pengalaman seorang figur publik.
Konten viral yang beredar luas di media sosial, seperti yang diulas internationalmedia.co.id, menampilkan cerita seorang kreator konten yang mengaku didiagnosis usus buntu oleh tiga dokter di Indonesia. Namun, ketika mencari second opinion di sebuah rumah sakit di Penang, dokter di sana menyatakan tindakan operasi tidak diperlukan. Figur publik tersebut kemudian mengajak khalayak untuk mengikuti jejaknya mencari diagnosis kedua di luar negeri, khususnya di Penang.

Menkes Budi Gunadi Sadikin, dalam pernyataannya pada Kamis (13/8), menyesalkan narasi yang berkembang. Ia menilai konten tersebut berpotensi mendiskreditkan kompetensi dokter-dokter di Indonesia. "Saya tegaskan, dokter-dokter kita tak kalah bersaing dengan dokter di luar negeri," ujar Budi, seraya menambahkan bahwa promosi dengan cara menyudutkan layanan kesehatan dalam negeri adalah tindakan yang tidak pantas jika memang merupakan bagian dari endorsement.
Senada dengan Menkes, Irma Suryani Chaniago juga mengakui bahwa kualitas dokter Indonesia sangat andal. Namun, ia memberikan catatan penting terkait dugaan adanya sebagian kecil dokter yang cenderung menyarankan operasi demi keuntungan finansial semata. "Saya pernah mengalami sendiri. Tumit saya sakit saat berjalan. Di salah satu rumah sakit, setelah rontgen, saya disarankan operasi. Namun, setelah mencari second opinion ke rumah sakit lain, dokter ortopedi di sana hanya menyuntik dan sampai sekarang tumit saya baik-baik saja. Dokter itu bahkan terheran-heran mengapa saya disarankan operasi, padahal faktanya hasil rontgen hanya menunjukkan radang," cerita Irma kepada wartawan, Jumat (14/8/2026).
Irma menegaskan bahwa kemampuan dokter di Indonesia tidak kalah dengan dokter asing, namun ia menyoroti aspek "pragmatis" yang mungkin dimiliki sebagian kecil dokter. "Ada dokter yang berorientasi pada profit dengan mudah merekomendasikan tindakan operasi. Ini terjadi bahkan di Indonesia sendiri, yang membuktikan tidak semua dokter pragmatis dan merugikan pasien," ujarnya. Oleh karena itu, Irma mendesak Menkes untuk segera menertibkan praktik-praktik semacam ini.
"Ini harus ditertibkan, karena yang dirugikan bukan hanya uang, tetapi juga tubuh manusia. Viral berita ini tentu menjadi refleksi mendalam bagi kita, Menkes harus segera mengambil tindakan tegas," pungkas Irma, menekankan pentingnya menjaga integritas profesi medis dan kepercayaan publik terhadap sistem kesehatan nasional.
