Sebuah insiden tragis yang melibatkan dugaan pencurian ayam berujung maut di Tabanan, Bali, telah memicu sorotan tajam dari Dewan Perwakilan Rakyat. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, Anggota Komisi II DPR dari Fraksi Golkar, Ahmad Irawan, mengecam keras aksi main hakim sendiri yang menewaskan seorang pria terduga pencuri tersebut, menuntut penindakan tegas terhadap para pelaku.
Irawan menyatakan keprihatinan mendalam atas peristiwa tragis ini. "Perasaan saya sedih dan perih saat membaca serta menyaksikan kejadian serupa. Terlepas dari dugaan tindak kejahatan yang mungkin dilakukan oleh korban, tidak ada pembenaran untuk menghakiminya dengan cara brutal, apalagi sampai berujung pada kematian akibat pengeroyokan massal," ujarnya kepada awak media, belum lama ini.

Sebagai Sekretaris Bidang DPP Partai Golkar, Irawan menegaskan bahwa Indonesia adalah negara hukum yang menjunjung tinggi peradaban. "Sistem hukum kita harus dihormati sebagai satu-satunya jalan untuk menyelesaikan setiap permasalahan," tegasnya. Ia lantas mendesak kepolisian untuk segera mengusut tuntas para pelaku pengeroyokan dan main hakim sendiri, serta memastikan mereka menerima hukuman yang setimpal. Selain itu, Irawan juga menyerukan agar pemerintah bertanggung jawab dalam memulihkan kondisi psikologis dan memberikan pendampingan kepada keluarga korban yang ditinggalkan.
Kasus yang menjadi sorotan ini bermula dari dugaan pencurian ayam di Banjar Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali, yang berujung pada pengeroyokan massal hingga menewaskan pria berinisial KD. Kepolisian setempat, melalui Kapolsek Baturiti Kompol I Nyoman Darsana, mengonfirmasi bahwa penyidik tengah mendalami dua aspek utama dalam perkara ini: dugaan tindak pidana pencurian ayam dan insiden aksi massa yang terjadi pasca-dugaan pencurian tersebut.
Berkat penyelidikan intensif, pihak kepolisian telah berhasil menetapkan lima warga sebagai tersangka dalam kasus pengeroyokan KD. Mereka adalah MJ, WS, KB, ML, dan ND. Bersamaan dengan penangkapan para tersangka, aparat juga menyita sejumlah barang bukti krusial, termasuk pakaian yang dikenakan para tersangka, sebatang besi, dan sebatang bambu yang diduga kuat digunakan dalam penganiayaan fatal tersebut. Tragedi ini semakin menyayat hati setelah video yang memperlihatkan anak korban histeris menyaksikan ayahnya tak bernyawa viral di media sosial, memicu gelombang simpati dan kemarahan publik.
Irawan menekankan bahwa insiden main hakim sendiri semacam ini harus menjadi bahan evaluasi dan introspeksi kolektif bagi seluruh elemen masyarakat. Ia berharap, kasus serupa yang merenggut nyawa akibat amarah massa tidak akan terulang kembali di masa mendatang.
