Internationalmedia.co.id – News – Tiga puluh tahun setelah tragedi kelam Kerusuhan Dua Tujuh Juli (Kudatuli) mengguncang bangsa, Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, secara resmi meresmikan sebuah monumen patung yang didedikasikan untuk mengenang peristiwa tersebut. Berlokasi strategis di halaman depan Kantor DPP PDI Perjuangan, Menteng, Jakarta Pusat, monumen ini disebut-sebut sebagai simbol kuat dari harapan keadilan yang tak kunjung tiba bagi para korban. Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, menegaskan bahwa patung ini menjadi pengingat pahit akan absennya keadilan selama tiga dekade terakhir.
Hasto menjelaskan, monumen tersebut menampilkan figur sentral seorang wanita yang digambarkan tengah berteriak, seolah menyuarakan penderitaan. Wanita ini merangkul lima sosok lain yang dalam posisi tertunduk, melambangkan pencarian tak henti terhadap korban-korban yang hilang dalam insiden Kudatuli. "Dalam ketertundungan para korban yang menantikan harapan adanya titik terang terhadap mereka-mereka yang telah dihilangkan oleh rezim," ujar Hasto, menyoroti bahwa harapan akan kejelasan nasib para korban masih terus membara. Ia secara khusus menyebut nama Wiji Thukul, aktivis yang dikenal dengan syair-syair kritisnya, yang menghilang setahun setelah peringatan Kudatuli dan nasibnya masih misterius hingga kini.

Lebih lanjut, Hasto menginterpretasikan monumen Kudatuli ini sebagai representasi Megawati yang merangkul para korban tragedi berdarah tersebut. Sosok Ibu Pertiwi, dengan kasih sayangnya kepada seluruh anak bangsa, digambarkan menatap ke langit, memanjatkan doa, sekaligus meneriakkan permohonan agar cahaya keadilan dapat menerangi Indonesia. Tak hanya itu, empat obor abadi yang mengelilingi monumen di setiap penjuru, menurut Hasto, melambangkan keyakinan dalam berpolitik, keteguhan prinsip, keberanian, dan kesabaran revolusioner. Semuanya bermuara pada keyakinan bahwa kebenaran pasti akan menang, sebuah filosofi yang dikenal sebagai Satyam Eva Jayate.
Dalam kesempatan peresmian, Megawati sendiri mengungkapkan bahwa monumen ini lahir dari kontemplasi mendalamnya, khususnya dalam mengenang cita-cita luhur sang proklamator, Bung Karno, saat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Baginya, patung ini adalah manifestasi dari "kesabaran revolusioner" yang ia yakini. Kesabaran ini, jelas Megawati, tidak lahir dari kepasrahan, melainkan dari keyakinan yang kuat, keteguhan hati, dan keberanian untuk tidak pernah putus asa. "Kita kalau yakin dalam kehidupan dan setelah itu tahu untuk apa kita punya keyakinan, maka harus punya keteguhan dan keberanian. Setelah itu, di dalam menjalankannya, kita tidak pernah boleh putus asa. Oleh sebab itu, kita harus punya kesabaran revolusioner," tutur Megawati, menggarisbawahi pentingnya semangat pantang menyerah dalam menghadapi tantangan.
