Internationalmedia.co.id – News – Gejolak diplomasi di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran dilaporkan mengajukan tawaran mengejutkan kepada Amerika Serikat: mengakhiri blokade Selat Hormuz dengan syarat AS juga mencabut sanksi terhadap Teheran, namun tanpa menyentuh program nuklirnya. Proposal berani ini menjadi sorotan utama di tengah serangkaian peristiwa penting lainnya yang terjadi pada Senin, 27 April 2026, mencakup eskalasi militer di perbatasan Lebanon-Israel dan manuver politik domestik di Israel.
Menurut dua pejabat regional yang mengetahui detail proposal tersebut, Iran ingin membuka kembali Selat Hormuz yang strategis sebagai jalur pelayaran vital. Namun, mereka menegaskan bahwa diskusi mengenai program nuklir tidak akan menjadi bagian dari negosiasi ini. Kantor berita AP melaporkan bahwa tawaran ini disampaikan secara anonim oleh sumber tersebut. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah menyatakan keinginan untuk mengakhiri program nuklir Iran sebagai bagian dari kesepakatan komprehensif, termasuk status Selat Hormuz. Upaya mediasi melalui Pakistan pun sempat menemui jalan buntu. Trump bahkan membatalkan kunjungan utusan khususnya, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner, ke Islamabad setelah Teheran menolak berdialog langsung dengan Washington, memilih Pakistan sebagai perantara. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, hanya bertemu dengan pejabat senior Pakistan, termasuk Perdana Menteri Shehbaz Sharif, tanpa ada pertemuan dengan delegasi AS. Proposal baru ini, yang diteruskan ke AS oleh Pakistan, kemungkinan besar tidak akan mendapat dukungan dari Presiden AS Donald Trump yang ingin mengakhiri program nuklir Iran sebagai bagian dari kesepakatan keseluruhan.

Sementara itu, ketegangan di perbatasan Lebanon-Israel kembali memuncak. Kelompok Hizbullah melancarkan serangan rudal anti-tank terhadap posisi pasukan Israel di Lebanon bagian selatan pada Senin pagi. Serangan tersebut, seperti dilansir Anadolu Agency, menargetkan konsentrasi pasukan dan kendaraan militer Israel di area Tal al-Nahas, pinggiran Kafr Kila. Dalam pernyataannya, Hizbullah mengklaim telah menargetkan pasukan Israel yang dikerahkan di dekat area perbatasan kedua negara, mengindikasikan eskalasi lanjutan di wilayah tersebut.
Dari arena politik domestik Israel, dua mantan Perdana Menteri, Naftali Bennett dan Yair Lapid, yang dikenal sebagai rival politik utama PM Benjamin Netanyahu, secara mengejutkan membentuk koalisi. Langkah ini bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan Netanyahu dalam pemilihan umum yang diperkirakan akan digelar akhir tahun ini. Al Jazeera melaporkan bahwa Bennett, dari sayap kanan, dan Lapid, dari sentris, merilis pernyataan bersama pada Minggu, 26 April, mengumumkan penggabungan partai mereka, Bennett 2026 dan There is a Future, demi satu tujuan: menantang dominasi Netanyahu. Perkembangan ini menambah dinamika politik di Israel yang kerap diwarnai intrik dan aliansi tak terduga.
