Internationalmedia.co.id – News – Iran baru-baru ini melayangkan proposal mengejutkan kepada Amerika Serikat, menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz yang strategis. Namun, tawaran ini datang dengan satu syarat krusial: Washington harus mengakhiri blokade yang selama ini diterapkan terhadap Teheran, tanpa perlu membahas program nuklir kontroversial Iran.
Informasi mengenai proposal ini diungkap oleh dua pejabat regional yang enggan disebutkan namanya, sebagaimana dilaporkan kantor berita AP. Pakistan disebut menjadi perantara dalam penyampaian usulan Iran ini kepada pihak Amerika Serikat. Selain pembukaan Selat Hormuz, Iran juga secara eksplisit menginginkan AS untuk menghentikan seluruh bentuk blokade terhadap negaranya sebagai bagian dari kesepakatan ini.

Meski demikian, harapan proposal ini akan diterima Presiden AS Donald Trump tampaknya tipis. Trump sebelumnya telah menegaskan bahwa ia menginginkan penghentian program nuklir Iran sebagai bagian integral dari setiap kesepakatan komprehensif, termasuk untuk mencapai gencatan senjata permanen di Selat Hormuz.
"Kami memegang semua kartu. Jika mereka ingin berbicara, mereka bisa datang kepada kami, atau mereka bisa menghubungi kami," ujar Trump kepada Fox News Channel, Minggu (26/4) waktu setempat. Proposal Iran ini pertama kali diangkat oleh media Axios.
Axios juga mengutip sumber yang menyatakan bahwa Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, telah menjelaskan kepada mediator dari Pakistan, Mesir, Turki, dan Qatar bahwa belum ada konsensus di antara para pemimpin Iran mengenai cara menanggapi tuntutan AS. Hal ini mengindikasikan adanya perpecahan internal di Teheran terkait strategi menghadapi tekanan AS.
Di sisi lain, Gedung Putih dijadwalkan akan mengadakan pertemuan penting mengenai Iran pada Senin (27/4) waktu setempat, melibatkan tim keamanan nasional dan kebijakan luar negeri utama Presiden Trump, untuk membahas langkah selanjutnya.
Sebelumnya, Trump juga membatalkan rencana kunjungan utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke Islamabad, Pakistan, pada Sabtu lalu. Ia beralasan tidak ada gunanya "duduk-duduk membicarakan hal yang tidak penting," yang semakin memperjelas sikap keras AS terhadap Iran.
Situasi ini menunjukkan kebuntuan diplomatik yang kompleks antara kedua negara adidaya, di mana Iran mencoba mencari jalan keluar dari sanksi yang mencekik, sementara AS tetap pada tuntutan utamanya terkait program nuklir, menjadikan Selat Hormuz sebagai salah satu titik tawar yang paling sensitif.
