Tel Aviv – Internationalmedia.co.id – News melaporkan, panggung politik Israel kembali bergejolak dengan terbentuknya aliansi mengejutkan antara dua mantan Perdana Menteri, Naftali Bennett dan Yair Lapid. Keduanya, yang dikenal sebagai rival sengit PM Benjamin Netanyahu, secara resmi menyatakan bersatu untuk menggulingkan pemerintahannya dalam pemilihan umum yang diperkirakan akan digelar pada akhir tahun ini. Pembentukan koalisi ini, seperti dilansir Al Jazeera pada Senin (27/4/2026), menandai upaya serius untuk mengakhiri era kepemimpinan Netanyahu.
Bennett, yang mewakili spektrum politik sayap kanan, dan Lapid, dari kubu sentris, mengumumkan penggabungan partai politik mereka, Bennett 2026 dan There is a Future, melalui pernyataan bersama pada Minggu (26/4) waktu setempat. Aliansi ini, yang dinamakan "Bersama", bertujuan untuk menyatukan fragmen oposisi yang selama ini terpecah belah, dengan satu kesamaan kuat: keinginan untuk mengganti Netanyahu. Kantor Bennett mengonfirmasi bahwa ia akan memimpin partai gabungan terbaru ini.

Dalam pernyataan yang disiarkan televisi, Bennett menegaskan langkah ini sebagai "langkah paling Zionis dan patriotik yang pernah kami ambil untuk negara kami." Senada, Lapid menambahkan, "Bennett mungkin politisi sayap kanan, tetapi dia jujur, dan ada rasa saling percaya di antara kami." Lapid juga menekankan bahwa koalisi ini dibentuk untuk "menyatukan blok, mengakhiri perpecahan internal, dan memfokuskan semua upaya untuk memenangkan pemilu penting yang akan datang — serta memimpin Israel menyongsong masa depan."
Jika terpilih, Bennett berjanji akan membentuk komisi penyelidikan nasional untuk mengusut tuntas apa yang ia sebut sebagai kegagalan fatal yang berujung pada serangan Hamas 7 Oktober 2023. Tuduhan ini sendiri secara konsisten dibantah oleh pemerintahan Netanyahu. Baik Bennett maupun Lapid telah menjadi kritikus vokal terhadap penanganan perang oleh Netanyahu, dengan Lapid baru-baru ini menyebut kesepakatan gencatan senjata dua minggu dengan Iran sebagai "bencana politik".
Ini bukan kali pertama Bennett dan Lapid bersekutu. Keduanya pernah membentuk koalisi pada tahun 2021 yang berhasil mengakhiri 12 tahun berturut-turut masa jabatan Netanyahu. Namun, pemerintahan tersebut hanya bertahan kurang dari 18 bulan. Bennett, seorang mantan komandan militer berusia 54 tahun yang kini sukses di dunia teknologi, kini kembali menjadi sorotan.
Potensi koalisi baru ini terlihat menjanjikan dalam jajak pendapat. Sebuah survei pemilu oleh N12 News Israel pada 23 April lalu memprediksi Bennett akan mengamankan 21 dari 120 kursi parlemen (Knesset), menyaingi 25 kursi yang diproyeksikan untuk Partai Likud pimpinan Netanyahu. Hasil ini konsisten dengan sejumlah jajak pendapat sebelumnya dari lembaga akademis dan media lokal Israel lainnya, yang menempatkan Bennett sebagai penantang serius bagi Netanyahu dalam kontestasi politik mendatang.
