Sebuah laporan mengejutkan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkap proyeksi mengerikan terkait konflik di Gaza. Hingga akhir tahun 2025, diperkirakan lebih dari 38.000 perempuan dan anak perempuan akan kehilangan nyawa akibat serangan Israel. Data ini, yang dirilis oleh Internationalmedia.co.id – News, menyoroti skala tragedi kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya di wilayah tersebut.
Angka tersebut mencakup lebih dari separuh total 71.000 kematian yang diproyeksikan dari konflik Israel-Hamas. Juru bicara badan UN Women, Sofia Calltorp, dalam konferensi pers di Jenewa, menjelaskan bahwa antara Oktober 2023 hingga Desember 2025, "lebih dari 38.000 perempuan dan anak perempuan tewas di Gaza – akibat pemboman udara Israel dan operasi militer darat." Rinciannya, lebih dari 22.000 adalah perempuan dewasa dan 16.000 adalah anak perempuan, yang berarti rata-rata setidaknya 47 perempuan dan anak perempuan tewas setiap hari.

PBB sendiri mengakui bahwa angka sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi. Banyak jenazah yang diperkirakan masih terkubur di bawah reruntuhan bangunan, sementara sistem pelaporan di wilayah konflik sangat terbatas dan tidak memadai. Calltorp juga menyoroti pola yang mengkhawatirkan: "Perempuan dan anak perempuan menyumbang proporsi kematian yang jauh lebih tinggi daripada yang diamati dalam konflik sebelumnya di Gaza." Laporan UN Women menunjukkan bahwa dalam konflik 2008-2009, mereka hanya mencakup 15 persen dari korban tewas, dan 22 persen pada konflik 2014. Perbandingan ini menegaskan betapa parahnya dampak konflik saat ini terhadap kelompok rentan tersebut.
Bagi mereka yang berhasil selamat dari serangan mematikan, ancaman terhadap nyawa mereka tidak berhenti. Mereka terus menghadapi kelaparan akut, pengungsian berulang kali, dan akses yang sangat terbatas terhadap layanan-layanan penting seperti kesehatan, sanitasi, dan pendidikan. Lebih lanjut, Calltorp menambahkan, "Selain jumlah korban jiwa yang mengejutkan, hampir 11.000 perempuan dan anak perempuan di Gaza mengalami cedera yang sangat parah sehingga mereka hanya bertahan hidup dengan kecacatan seumur hidup." Kondisi ini menambah daftar panjang penderitaan yang dialami warga Gaza di tengah eskalasi konflik yang tiada henti.

